Assalamu’alaikum… Sudah connect belum?
Sudah nyambung belum hatinya sama Allah?
Atau masih loading karena sibuk urusan dunia yang tiada ujung?

Saudaraku…
Sore tadi, langit mewah dengan semburat jingga. Matahari tak sekadar tenggelam, ia pamit. Tapi di bumi, ada kita, manusia-manusia yang sering lupa berpamitan kepada-Nya.
Maghrib pun hilang…
Bukan karena waktunya tak datang, tapi karena kita yang tak sempat menyambutnya.
Bukan langit yang berubah…
Bukan adzan yang tak terdengar…
Tapi hati kita yang sudah bising…
Telinga kita yang sibuk dengan notifikasi…
Dan tubuh kita yang letih mengejar dunia yang tak pernah habis dikejar…

—
Waktu Maghrib itu sakral…
Itu waktu kembalinya ruh ke dalam doa…
Waktu pintu langit dibuka…
Waktu gelap dan terang bersalaman sejenak,
lalu berganti,
dengan janji,
dan harapan…
Tapi kita?
Maghrib kita tergantikan dengan urusan invoice yang belum kirim.
Dengan konten yang belum upload.
Dengan drama Korea episode baru.
Dengan scrolling yang tak kunjung selesai.
Dengan janji meeting dan deadline yang entah siapa tuannya.

—
Saudaraku…
Pernahkah engkau menangisi Maghrib yang kau lewatkan?
Pernahkah hatimu nyeri karena Allah menunggu di sajadah,
tapi engkau malah menunduk di depan layar?
Pernahkah engkau rasakan kehilangan?
Bukan karena orang…
Tapi karena waktu suci yang tak kau hargai?
Hilang Maghrib itu lebih menyakitkan…
Daripada hilang sinyal WiFi di tengah Zoom penting.
Karena yang terputus bukan jaringan internet…
Tapi jaringan ruhani dengan Rabbul ‘Alamin.

—
Maghrib itu bukan hanya shalat…
Itu waktu paling rapuh…
Waktu paling jujur…
Dimana lelah hari bergema…
Dan jiwa haus pelukan Ilahi.
Maghrib itu adalah ciuman lembut Allah pada hati yang pulang…
Tapi jika engkau tak pulang…
Bagaimana Dia bisa menyambutmu?

—
Saudaraku…
Saat dunia mulai menyilaukanmu…
Ingatlah, bahwa setiap detik yang kau curi dari waktu Maghrib…
Akan menjadi saksi di hari dimana cahaya dibutuhkan…
Sementara engkau hanya membawa kegelapan layar yang dulu kau pelototi.
Kembalilah…
Sebelum langit benar-benar kehilangan senjanya.
Sebelum waktumu habis, dan Maghribmu hanya tinggal kenangan.
Jangan tunggu tua…
Karena bahkan orang muda pun bisa mati di waktu sore…
—
Saudaraku…
Mari kita jaga Maghrib kita…
Bukan karena takut dosa semata…
Tapi karena kita rindu pulang…
Karena kita ingin ditemui Allah dalam keadaan bersujud,
bukan dalam keadaan asyik dengan notifikasi dunia.
—
Assalamu’alaikum… Sudah connect belum?
Mari kita sambungkan hati kita dengan-Nya…
Sebelum semuanya benar-benar terputus…
Karena Maghrib… bukan hanya waktu…
Tapi jalan pulang bagi jiwa-jiwa yang haus kasih-Nya.
—
Wallahu a’lam bishawab.
Semoga kita dipertemukan kembali dengan Maghrib-maghrib yang tak lagi hilang…
Yang penuh sujud, dzikir, dan air mata rindu kepada Allah…
Wassalamu’alaikum… Sudah connect kembali?
Semoga kali ini tak putus lagi…















