Bekasi, Petang-Petang Gerimis –Di antara suara pembakar sate usus dan denting sendok teh yang beradu dengan gelas, sebuah potret kehidupan Indonesia modern terhampar di atas tikar plastik angkringan: anak muda selfie sambil caption “nguri-uri budaya”, tapi abis itu minta QRIS, bukan nanya kabar si Simbah yang jualan.
“Wong saiki mangan sego kucing tapi gayane macan,” kata Pakde Gareng sambil nyruput kopi joss.
Nah, dari fenomena sederhana ini, tim antropologi lapangan Mahasiswa Universitas Mpu Tantular mencoba melakukan studi kasus budaya — soal bagaimana masyarakat kita melestarikan budaya, atau sekadar memanfaatkannya buat konten story 15 detik.
Budaya Dandanan, Bukan Keteladanan
Menurut survei iseng di tiga angkringan, 87% responden bilang “cinta budaya lokal.” Tapi ketika ditanya siapa itu Ki Hadjar Dewantara, mayoritas jawab, “itu yang sering trending di TikTok, ya?”
“Budaya kita makin hari makin bersolek di luar, tapi sayup-sayup kehilangan isi di dalam.”
Kita bangga pakai batik saat kondangan, tapi minder kalau bawa ibu kita jalan karena logat Jawanya medhok. Kita suka ngopi di joglo, tapi gak tahu arti “memayu hayuning bawana”.
Budaya Jadi Aset, Tapi Bukan Amanat
Sekarang budaya dijual dalam paket wisata: tari ditarikan buat turis, tapi anak-anak setempat lebih hafal dance challenge. Ritual jadi konten, bukan lagi bagian dari kehidupan.
Budaya dipoles jadi branding desa wisata, tapi simbah-simbah yang masih hidup dari anyaman bambu… tetap dianggap “penghambat modernisasi”.
Fenomena “Ngerti Budaya”, Tapi Gak Ngeh
Kami menyebut generasi ini “generasi semi-sadar budaya.”
Tau R.A. Kartini dari meme, bukan dari buku.
Bisa menyebut “kearifan lokal”, tapi gak bisa mencontohkan satu pun dalam hidup sehari-hari.
Saat upacara adat, semua angkat kamera, bukan angkat rasa hormat.
“Budaya kita bukan buat ditonton, tapi untuk dihayati. Tapi lha piye, wong saiki lebih milih ‘live story’ daripada ‘live sincerely’…”
Studi Kasus: Kirab Budaya Desa Jambu, Wonosobo
Dalam acara Kirab Budaya di Desa Jambu, para pemuda beramai-ramai pakai surjan dan blangkon. Tapi setelah kirab, baju adat dicampakkan ke motor dan langsung ngopi sambil merokok vape. Ditanya makna kirab, jawabnya: “Ya buat konten, mas.”
Satu-satunya yang paham filosofi kirab justru Simbah 83 tahun yang bilang:
“Kirab kuwi ora mung mlaku, tapi upaya ngelingi sopo awakmu sejatine.”
Walah, mbok ya kenceng kabeh itu sinyal WiFi kesadaran budaya.
Kesimpulan Bergaya Sindiran Halus tapi Nyelekit
Kita sedang berada di era di mana budaya dipajang, tapi tak lagi dipahami. Dimana budaya kita dikutip di pidato resmi, tapi dilupakan di ruang makan sendiri. Sementara kita sibuk cari cuan dari budaya, budaya sendiri sibuk cari tempat untuk tetap hidup.
Jangan-jangan, kita ini bukan lagi pewaris budaya,
tapi justru… perias budaya.
Penutup ala Antropologi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular, Jakarta
Budaya bukan hanya urusan seragam batik hari Jumat atau pasang lagu daerah saat 17-an. Budaya adalah bagaimana kita bersikap, bertutur, dan menghargai akar—meski sedang hidup di zaman drone dan AI.
“Ngaku wong Jawa, tapi ora tau nyungkem tangan ibumu, yo wis… kowe mung iso nggone nyanyi ‘Javanese version’ wae.”
Mari, kita rayakan budaya bukan hanya dengan kamera, tapi dengan hati.
Ditulis dengan nyruput kopi, ditemani gorengan dan sindiran yang penuh makna.
Salam budaya,
Arfian – Antropolog Mahasiswa Fakultas Hukum yang lagi berjuang mengejar mimpi budaya nya
“Lho, sampeyan sudah connect budayamu belum?”
















