Bumiaji, Kota Batu — Libur panjang tiba, dan masyarakat langsung “merumput”! Tapi bukan di stadion, melainkan di kebun stroberi. Yup, suasana Jumat siang (13/6/2025) di Kebun Stroberi Lestari, Bumiaji, mirip seperti konser Raisa — rame, segar, dan penuh senyum manis… walau kadang senyum itu palsu karena harga tiket parkir!
Katanya sih ini wisata edukatif. Tapi bagi sebagian orang, edukatif itu cuma sebatas: “Oh, ternyata stroberi nggak tumbuh di kulkas, ya?”

Kebun Rame, Dompet Ambyar
Pak Rudi Hartono, pengelola kebun, mengatakan kalau jumlah pengunjung naik tiga kali lipat. Biasanya 100-an, kini tembus 300-an per hari.
“Kami tambah petugas buat bantu pengunjung. Soalnya ada yang metik stroberi kayak metik utang—nggak berhenti-berhenti,” kata Rudi sambil senyum yang mulai capek tapi tetap disyukuri.
Yang datang bukan hanya warga lokal, tapi dari Surabaya, Jakarta, bahkan mungkin dari planet yang sama dengan harga cabe saat ini. Mereka semua ingin merasakan jadi petani—walau cuma 30 menit dan tetap minta WiFi.

Cicik dari Surabaya: Antara Edukasi dan Selfie
Seorang ibu muda bernama Cicik (31), membawa anak-anaknya untuk petik stroberi. Katanya, “Anak-anak jadi tahu dari mana asal buah. Biasanya tahunya dari rak buah minimarket, sekarang dari kebun.”
Tentu ini bagus. Kita memang butuh generasi yang tahu cara menanam, bukan cuma tahu cara membuka aplikasi ojek buah online.
Tapi ya begitulah, kadang edukasi itu kalah sama estetika. Stroberi dipetik bukan karena matang, tapi karena cocok buat feed Instagram. Kalau bisa ada filter “kebun organik” sekalian.

Wisata Petik vs. Realitas Petani
Petruk mengelus dada (yang tipis dompetnya), sambil nyeletuk:
> “Lucu juga, ya, rek. Kita seneng-seneng petik stroberi, tapi jarang mikir nasib petani stroberi itu sendiri. Jangan-jangan hasil metikan kita lebih banyak dari harga jual panen mereka ke tengkulak?”
Garéng pun nimpali sambil nyelutuk:
> “Wisata petik ini seperti sinetron: manis di permukaan, tapi ada drama di balik layar. Harga pupuk naik, cuaca nggak menentu, tapi kita tetap pengin stroberi merah sempurna, manis, dan bebas ulat. Emangnya hidupmu aja yang boleh nggak ada cobaan?”
Cermin untuk Kita Semua
Wisata petik stroberi ini sejatinya bukan cuma urusan liburan dan selfie. Tapi juga refleksi.
Bahwa di balik buah mungil nan merah itu, ada peluh petani, ada cuaca yang tak menentu, ada perjuangan menjaga tanah tetap subur meski diserbu vila dan beton.
> “Petani itu guru kehidupan. Kita metik stroberi 10 menit, mereka nanem 3 bulan. Kita cemberut dapat stroberi agak asam, mereka senyum dapat panen meski harga anjlok,” kata Petruk sambil nyruput teh tubruk tanpa gula.
Akhirnya…
Wisata petik stroberi di Bumiaji memang pengalaman yang unik, segar, dan menyenangkan. Tapi semoga bukan cuma manis di lidah, ya, tapi juga di hati dan pikiran.
Yuk, selain petik stroberi, petik juga rasa syukur dan kepedulian. Jangan cuma ngambil foto cantik, tapi tinggalkan juga kesadaran: kalau bumi ini butuh lebih banyak yang menanam, bukan cuma yang numpang selfie.
—
Garéng & Petruk out.
(Nulis sambil nyemil stroberi yang dipetik sendiri, dibayar sendiri, dan dinikmati tanpa filter… kecuali filter rasa syukur.)
—
Editor: Eko Windarto & Tim Ngakak Nusantara
Ilustrasi: Stroberi yang bahagia karena dipetik dengan cinta, bukan dengan gaya.
![[GARÉNG PETRUK NEWS] Petik Stroberi di Bumiaji: Liburan Edukatif, Lucu-lucu Segar, Tapi Tetap Harus Ingat Akal!](https://garengpetruk.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20250614-WA0018.jpg)






![[GARÉNG PETRUK NEWS] Oknum Wartawan & Aktivis LSM Ngaku Pejuang, Ternyata Penagih Uang: Pemerasan Ala Kopi-Kopi Sore Hari](https://garengpetruk.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20250614-WA0021.jpg)








