Bekasi – Selamat datang di Kota Harapan Indah, di mana harapan lancar itu ada, tapi indahnya macet dulu! Setiap pagi, warga yang hendak beraktivitas dihadapkan dengan ujian kesabaran yang lebih berat dari antrian sembako gratis. Gerbang Kota Harapan Indah yang seharusnya jadi pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih baik, justru berubah jadi arena survival ala game reality show: siapa cepat, dia selamat!

Salah satu warga yang identitasnya dirahasiakan (katanya biar aman dari serangan “tim hore” pemerintah) mengaku sudah pernah menyampaikan keluhan ini ke anggota dewan Kota Bekasi. Tapi, sayang seribu sayang, langkah nyata dari yang terhormat masih sebatas langkah di tempat.
“Kami macet tiap hari, kayak nunggu hujan di musim kemarau. Katanya bakal ada solusi, tapi sampai sekarang masih angin surga,” keluh si warga, yang mungkin sekarang sudah hafal plat nomor truk-truk kontainer yang jadi teman seperjalanan setiap pagi.
Solusi: Ada atau Hanya Wacana?
Beberapa warga usul, kalau bisa kendaraan berat seperti kontainer jangan lalu-lalang di jam sibuk. Soalnya, jalanan sudah padat, ditambah truk-truk segede gaban yang jalannya pelan tapi pasti, makin lengkaplah penderitaan pengguna jalan lainnya. Tapi entah kenapa, solusi sederhana ini belum juga dijalankan. Mungkin para pemangku kebijakan masih sibuk meeting, atau sedang sibuk menentukan siapa yang dapat proyek bikin solusi (yang entah kapan kelarnya).
Sebenarnya, ini bukan sekadar soal macet. Ini soal efektivitas, efisiensi, dan—tentu saja—kepekaan pejabat terhadap keluhan rakyat. Kalau solusi tak kunjung datang, jangan heran kalau nanti muncul tren baru: warga berangkat kerja sebelum subuh atau malah bawa tenda buat kemping di gerbang kota.
Pemerintah, ayo dong, jangan cuma kasih janji manis kaya promosi diskon di e-commerce! Warga butuh aksi nyata, bukan sekadar “kami akan mengkaji lebih lanjut” yang berujung ke sekadar wacana. Jangan sampai Kota Harapan Indah cuma tinggal nama, sementara harapan warganya makin lama makin redup.
Kontributor: Bang Ai

















Comments 1