Klaten, Jawa Tengah – Ada pemandangan langka dan mengharukan di Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten. Bukan karena ada pertunjukan sulap atau konser dangdut koplo, melainkan karena seluruh warga desa, tanpa terkecuali, menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dari Pemerintah Desa.
Ya, Anda tidak salah baca! Semua warga desa, dari simbah-simbah yang suka ngerumpi di pos ronda sampai anak-anak yang masih suka ngelukis tembok pakai krayon, dapat THR sebesar Rp200.000 per kepala. “Biasanya THR itu urusan kantor sama pabrik, lha kok ini satu desa dapat? Iki serius po prank?” celetuk warga yang masih tak percaya.
Waterpark Desa Berbuah Manis
Ternyata, semua ini berkat kecerdikan Pemerintah Desa dalam mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sejak 2017, mereka membangun waterpark menggunakan Dana Desa, dan kini wahana itu bukan cuma jadi tempat bocah-bocah berenang sampai kulit keriput, tapi juga jadi sumber duit buat desa!
Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistya, dengan gaya santai tapi penuh makna, menjelaskan bahwa BUMDes tahun ini menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp2,6 miliar. “Dari hasil pengelolaan BUMDes, kita sisihkan untuk masyarakat. Itu kan uang dari negara, ya kita salurkan saja hasilnya untuk rakyat,” katanya.
Warga yang mendengar ini langsung mengangguk-angguk sambil menahan air mata haru. Pasalnya, di tempat lain, ada juga yang membangun BUMDes, tapi entah kenapa uangnya malah menguap ke udara seperti asap sate.
Tak Hanya THR, BPJS Pun Ditanggung Desa!
Tak berhenti di THR, Pak Kades juga mengumumkan bahwa desa menanggung iuran BPJS seluruh warga. Mulai dari BPJS Kesehatan bagi yang belum punya, BPJS Ketenagakerjaan bagi warga usia produktif, hingga Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kematian. “Jadi kalau ada warga yang berpulang, keluarganya bakal dapat santunan Rp42 juta dari BPJS,” ujarnya.
Mendengar kabar ini, banyak warga yang langsung refleks merapikan dokumen kependudukan. “Iki tenan to, Pak? Jangan-jangan besok saya bangun tidur, THR-nya cuma mimpi?” kata Yulianto, seorang warga yang mengaku girang bukan main.
Tahun lalu, warga hanya mendapat THR Rp400 ribu per KK. Tahun ini, modelnya diubah: setiap kepala dapat. Hasilnya? Semua orang senyum lebar, dari yang muda sampai yang ubanan.
Sindiran Manis untuk Pejabat di Luar Sana
Langkah Pemerintah Desa Wunut ini bukan cuma jadi berkah bagi warganya, tapi juga jadi tamparan halus buat pejabat-pejabat di luar sana yang sering bilang “Anggaran habis buat ini-itu” tapi rakyatnya tetap gigit jari.
Ternyata, kalau uang desa benar-benar dikelola buat kepentingan rakyat, hasilnya bisa dirasakan langsung. Tidak perlu seminar berulang kali, studi banding ke luar negeri, atau kunjungan kerja yang lebih sering mampir ke mall daripada ke lokasi proyek.
Bahkan, ada yang nyeletuk, “Kalau tiap desa kayak gini, bisa-bisa warga Indonesia malah doain Kadesnya biar naik pangkat jadi presiden!”
Akhir Kata: “Pak Kades, Semoga Barokah!”
Di tengah berita-berita soal harga sembako yang naik dan tunjangan yang seringnya cuma janji manis, kabar dari Desa Wunut ini seperti oase di tengah padang pasir. Sebuah bukti bahwa kalau pemimpin benar-benar niat dan serius mikirin rakyat, keajaiban bisa terjadi.
Kini, warga Desa Wunut bisa menyambut Lebaran dengan lebih tenang. THR di tangan, BPJS sudah aman, tinggal fokus ibadah dan bikin ketupat.
Untuk desa-desa lain yang masih bingung cari dana, coba deh tengok ke Wunut. Siapa tahu bisa ikut-ikutan bikin waterpark, atau minimal, belajar cara mengelola anggaran biar rakyat benar-benar merasakan manfaatnya.
Selamat menikmati THR, warga Wunut! Semoga berkah dan nggak langsung habis buat beli es boba!
Peliput Berita : Eko Setyoatmojo
















