KLATEN, 4 Mei 2025 – Hari Minggu biasanya waktunya istirahat, rebahan, atau nonton sinetron bertema azab. Tapi tidak bagi para wanita tangguh dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Di Gereja Katolik SPM Bunda Kristus Wedi, suasana mendadak gegap gempita: bukan karena konser dangdut, tapi karena pelantikan pengurus baru DPC WKRI Klaten untuk periode 2025–2028. Bupati Klaten hadir, tokoh-tokoh Katolik berdatangan, dan yang pasti… aroma perubahan mulai tercium, bukan aroma masakan misa minggu.
Kristiana, Ketua DPC WKRI yang baru, tampil mantap dengan semangat lebih panas dari kompor gas tiga tungku. “Kami siap bersinergi dengan Pemkab Klaten. Dua program unggulan kami: bela beli UMKM dan bebas sampah bukan bebas nyampah!” ujar Kristiana sambil menegaskan bahwa WKRI bukan sekadar organisasi doa, tapi juga kerja nyata—tanpa minta anggaran, tanpa drama.

WKRI Gaya Baru: Dari Stunting Sampai Sustaining!
Yang menarik, WKRI nggak cuma mikirin urusan batin, tapi juga urusan perut dan masa depan anak-anak. Stunting—kata yang sering bikin pejabat grogi saat ditanya data—jadi prioritas utama. Lewat Yayasan Darma Ibu yang menaungi 10 TK Indriasana, WKRI siap mengawal anak sejak masih “ngekost” di perut ibunya sampai bisa nyanyi lagu “Balonku Ada Lima” dengan nada benar.
“Kalau bisa bantu turunkan angka stunting sambil ngopi dan nyanyi rohani, kenapa tidak?” celetuk salah satu ibu WKRI yang diam-diam juga jago karaoke.
WKRI juga akan kerja bareng PKK. Bayangkan dua kekuatan emak-emak digabung jadi satu. Kalau ini berhasil, bisa-bisa stunting, kemiskinan, dan malas kerja semuanya minggat dari Klaten!
Bupati Klaten: WKRI, Emak-emak Tangguh Pemersatu Bangsa
Dalam sambutannya, Bupati Klaten berharap WKRI bisa meningkatkan kualitas iman dan mutu pelayanan. “Kalau ibu-ibu WKRI sudah turun tangan, biasanya selesai urusannya. Dari dapur sampai dokumen, dari doa sampai data stunting,” ujar beliau penuh harapan (dan mungkin sedikit takut kalau dimarahi ibu-ibu WKRI).
Kristiana menutup dengan kalimat yang tak kalah greget: “Kami tidak minta uang, tidak minta kursi, tidak minta mobil dinas. Cukup diberi kesempatan untuk bergerak.” Luar biasa! Di tengah dunia penuh proposal dan SPJ, WKRI Klaten malah jalan sendiri, nggak pakai minta-minta.
Gareng Petruk pun angkat topi, meski topinya topi caping.
Semoga pelantikan ini bukan sekadar seremoni foto dan makan soto, tapi jadi awal dari langkah nyata. Karena kalau WKRI sudah gerak, stunting minggat, sampah mingkem, dan UMKM Klaten bisa naik kelas—minimal enggak kalah sama bakul online dari luar kota!
Salam dari sudut gereja,
Gareng Petruk – Lapor sambil nyengir.
















