Penulis asli berita: Firnas
Sumber: YouTube Pemuda Mendunia
Surabaya, Kota Pahlawan tapi Mahasiswanya Lebih Hebat Lagi –
Sementara sebagian mahasiswa masih sibuk ngisi kuota buat nonton reels dosen nge-dance di TikTok, seorang mbak dari Fakultas Hukum Unair malah nyedot prestasi internasional kayak magnet nyedot paku. Siapa dia? Diah Anggraeni Nur Khalisa, alias Mbak Diah, si calon sarjana hukum yang bukan hanya hafal pasal, tapi juga peka pada masa depan planet yang makin megap-megap karena polusi dan investasi serampangan.
—
GCIS: Bukan Nama Boyband Korea, Tapi Jurus Menyelematkan Bumi
Diah dan timnya bikin inovasi kece bernama Green Carbon Investment System alias GCIS. Jangan salah sangka, ini bukan sistem nabung CO2 di toples, lho. GCIS ini adalah upaya nyambungin hukum investasi dengan lingkungan, biar duit masuk negara bukan dari ngerusak bumi, tapi dari yang menjaga bumi.
> “Selama ini karbon dibiarkan lepas kayak mantan yang kabur bawa utang. Sekarang kami bikin instrumen hukumnya, biar investor mau nanem duit sambil nanem pohon,” ujar Diah, dengan gaya santai tapi bikin menteri ciut.
—
Tim Zico Squad: Dari SMP sampai Dosen, dari Ngapak sampai Papua
Timnya Diah ini bukan tim sembarangan. Namanya Zico Squad—bukan karena ngefans sama Zico rapper Korea, tapi karena ingin jadi zenith alias puncaknya lingkungan yang sehat. Uniknya, tim ini isinya bukan cuma mahasiswa, tapi ada anak SMP, SMA, sampai dosen dari Papua. Macem-macem, kayak isi lontong campur pas lebaran.
> “Koordinasinya? Ya kayak nyusun jadwal buka puasa bareng lima zona waktu,” kata Diah sambil ngakak, tapi tetap elegan.
Mereka kerja daring, diskusi tentang karbon, investasi, dan pasal-pasal rumit sambil ngejar PR, ujian, dan jadwal kuliah. Tapi justru dari keruwetan itu lahir sinergi yang luar biasa. Tiga penghargaan langsung diborong:
First Best Project Presentation
First Place Best Delegate
First Place Most Creative Delegate
Lah, ini baru tim multiverse SDGs edition. Bukan cuma pintar, tapi kreatif dan kolektif.
—
SDGs: Bukan Sekadar Tulisan di Banner Seminar
Buat para mahasiswa hukum yang biasanya ngerasa SDGs itu kerjaan anak HI atau lingkungan doang, Diah bawa kabar segar: “Hukum itu jantungnya SDGs!”
> “Tugas jurist itu bukan cuma bikin pasal, tapi memastikan semua peraturan ikut menjaga dunia,” kata Diah, yang kayaknya calon menteri lingkungan hidup kalau negara ini waras dalam milih pejabat.
Dengan GCIS, dia mendorong agar investasi asing bukan jadi kambing hitam kerusakan alam, tapi jadi sapi perah buat masa depan berkelanjutan. Pintar, kan? Iya dong, wong lawan debatnya aja sekretaris negara (lewat ibunya temen), bukan cuma netizen sok tahu.
—
Sindiran Manis Buat Negeri
Gareng ora mung nulis kabar seneng-seneng wae. Tapi juga nyentil dikit:
Kenapa ide-ide kayak gini datang dari mahasiswa, bukan dari lembaga negara yang anggarannya triliunan?
Apa karena di kampus masih ada idealisme, sementara di gedung parlemen idealismenya udah dijual di e-commerce?
> “Kalau mahasiswa hukum bisa mikir sampe karbon dan investasi, masa pejabat kita mikirnya cuma proyek jalan tol dan gedung baru?” – kata Petruk sambil megang kertas kosong bertuliskan “RUU Lingkungan, Jangan Cuma Gimik”.
—
Harapan dari Surabaya untuk Dunia
Prestasi Diah bukan cuma buat Unair, bukan cuma buat mahasiswa hukum, tapi buat kita semua. Bahwa perubahan bisa dimulai dari satu ide, satu tim, dan satu keberanian untuk berbeda. Sementara sebagian orang sibuk debat di TV soal siapa paling nasionalis, Diah dan Zico Squad udah bikin sistem buat nyelametin bumi.
Gareng cuman mau bilang:
> “Selamat, Mbak Diah. Teruslah melangit, tapi jangan lupa pulang ke bumi bawa solusi.”
—
Ditulis di bawah pohon mangga, sambil ngitung karbon dari pembakaran bakaran tetangga.
Oleh: Gareng Petruk, Juragan Satire Legal yang percaya kalau SDGs itu bukan sekadar hiasan di seminar kampus, tapi misi hidup kita bersama.














