JAWA TIMUR — Penonton bersorak, jantung berdegup, pelatih ngos-ngosan bukan karena jogging tapi karena VAR. Itulah ringkasan duel Liga Indonesia All Stars vs Arema FC dalam laga kedua Piala Presiden 2025 yang berakhir seri 2-2, tapi bumbunya pedas seperti sambal andalan warung sebelah stadion.
Arema sempat unggul dua gol lebih dulu, tapi All Stars pantang menyerah kayak emak-emak rebutan diskon minyak goreng.
Babak Pertama: Singo Edan Gaspol
Baru 20 menit laga berjalan, Salim Tuharea membuka skor untuk Arema. Penetrasinya tajam, mirip omongan netizen kalau sudah bahas gosip klub. Arema bermain agresif, dan si Dalberto juga bikin lini belakang All Stars sibuk cari napas dan arah bola.
Babak pertama ditutup dengan skor 1-0. Skuad All Stars tampak kayak sinyal 3G—lemah, ngadat, dan perlu restart.
Babak Kedua: Bangkit ala Sinetron Prime Time
Babak kedua dimulai, dan perubahan formasi terasa kayak ganti channel dari horor ke komedi romantis. Masuknya Witan Sulaiman, Riko Simanjuntak, dan Septian David Maulana bikin lini depan All Stars berisik kayak anak kos pas malam minggu.
Tapi eh, Arema nambah gol duluan! Menit 67, Dedik Setiawan cetak gol kedua hasil umpan cantik dari Paulinho. Skor jadi 2-0, komentator mulai bersiul, fans Arema mulai bergaya.
Lalu Datanglah… VAR dan Dua Penalti!
Menit 74: wasit tunjuk titik putih. Witan Sulaiman yang jadi algojo, dan gol! Skor 2-1. All Stars bangkit seperti cicilan yang belum lunas: pelan tapi pasti menghantui.
Menit 85: penalti lagi! Kali ini Septian David Maulana ambil alih. Tendangan santai tapi masuk, kayak nembak gebetan yang sudah pasti nerima. Skor imbang 2-2.
Arema coba ngegas lagi, tapi kiper Kartika Ajie tampil meyakinkan—kayak mantan yang sekarang udah jadi sarjana dan punya rumah KPR.
Susunan Pemain: Mix And Match Lokal dan Bintang
Liga Indonesia All Stars:
Kartika Ajie; Arif Satria, Komang Tri, Yusuf Meilina, Rizky Dwi; Bayu Otto, Rosad Setiawan, M Taufany; Eksel Runtuka, Irkham Mila, Riski Afrisal.
Masuk babak kedua: Witan, Riko, Septian David, dll. Efeknya kayak minum kopi pas jam 3 sore—langsung melek!
Arema FC:
Lucas Prigeri; Odivan, Julian Guevara, Thales Lira, Alfarizi; Jayus, Valdeci, Bayu Setiawan; Dalberto, Paulinho, Salim.
Barisan depan seperti trio Marvel, tapi pertahanannya sempat oleng kena serangan balik All Stars.
OPINI GARENG-PETRUK:
“Kalau Penalti Bisa Dapat Dua, Kenapa Gak Sekalian Tiga, Pak Wasit?”
Pertandingan ini bukan cuma soal skor 2-2. Tapi juga soal semangat tim yang bisa bangkit dari ketertinggalan, dan pelajaran buat Arema: jangan dulu senyum sebelum peluit panjang.
Kata Gareng: “Wasit zaman sekarang lebih sering buka VAR daripada buku tabungan.”
Kata Petruk: “Liga kita makin seru, tinggal nunggu kapan stadionnya bebas dari sandal terbang dan flare ilegal.”
Dan satu lagi: dua penalti untuk satu tim bukan dosa, tapi mungkin pertanda… bahwa pertahananmu perlu dipikirkan, bukan dibela pakai emosi.
Piala Presiden 2025 makin panas. Tapi ingat, yang paling penting bukan siapa menang hari ini, tapi siapa yang konsisten main jujur tanpa drama wasit dan kelakuan barbar tribun.
Harian Nasional Gareng Petruk
Sepak Bola Boleh Ngegas, Tapi Nurani Tetap Fair Play
















