JAKARTA — Di tengah gegap gempita diskon Shopee dan gempuran konten joget HRD di TikTok, ada sekelompok orang yang memilih duduk manis tapi mikir keras di Hotel Swiss-Belinn Cawang, Jakarta.
Bukan rapat MLM atau arisan rutin, tapi Pelatihan Perempuan dan Regenerasi Serikat Pekerja yang digelar oleh Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Jabodetabek pada 7–8 Juli 2025.
Regenerasi: Masalah Lama yang Masih Terjadi
Salah satu pemateri, Rita Tambunan, menyebut regenerasi serikat pekerja kini seperti drama Korea: panjang, lambat, dan penuh tangisan dalam diam.
“Ini sudah kayak kutukan. Generasi muda—apalagi perempuan—masih sedikit yang mau ambil peran di serikat,” ujar Rita, sambil mengibaskan rambut dan fakta-fakta.
Ia menekankan bahwa jika tak segera diatasi, serikat bisa kehilangan ruh perjuangannya dan hanya jadi tempat nostalgia para senior yang masih ngotot pakai istilah “revolusi proletar” di era digital.
Masalahnya di Mana? Cari Akar, Bukan Daun yang Rontok
Dalam sesi berikutnya, Galih Tripanjalu, Sekretaris Umum FSPM, membawa konsep “Root Cause Analysis” alias metode mencari akar masalah. Bukan cuma nyalahin generasi Z yang katanya doyan rebahan, tapi menggali: kenapa regenerasi seret, kenapa perempuan ogah gabung, dan kenapa rapat serikat sering kayak diskusi dosen tanpa power point.
“Kita perlu cari tahu kenapa banyak yang alergi ikut serikat. Mungkin karena serikat lebih sering marah-marah daripada mengajak ngobrol. Mungkin karena rapatnya panjang tapi tindak lanjutnya pendek,” ujar Galih, disambut tawa para peserta.
Perempuan, Bukan Pelengkap Slide Presentasi
Pelatihan ini juga jadi ruang terbuka untuk perempuan menyuarakan aspirasi. Bukan cuma soal ikut dokumentasi atau jadi moderator dadakan, tapi ikut menentukan arah gerak organisasi.
Beberapa peserta perempuan menyampaikan harapan agar serikat tak lagi jadi “klub bapak-bapak”, tapi rumah bersama yang inklusif, terbuka, dan bikin nyaman siapa saja—termasuk yang datang pakai heels dan hoodie.
Dialog, Diskusi, dan Kopi: Bukan Pelatihan Kalau Tanpa Debat Manis
Dua hari pelatihan ini penuh dengan diskusi interaktif yang kadang serius, kadang pecah tawa, kadang ada yang nyeletuk:
“Serikat ini butuh regenerasi, bukan regenerasi instan rasa ayam geprek.”
Para peserta pulang membawa catatan, semangat baru, dan tentunya kontak WA antaranggota yang siap diajak diskusi di luar forum—atau mungkin sekadar share meme perjuangan buruh.

OPINI GARENG-PETRUK:
“Kalau Serikat Mau Awet, Jangan Cuma Penuh Orator, Tapi Kosong Penerus”
Gareng dan Petruk ikut geleng-geleng sambil ngelus kepala. Masalah regenerasi itu bukan cuma soal minat, tapi juga soal pendekatan.
Kata Gareng: “Jangan heran anak muda ogah gabung serikat, kalau yang ngajak aja gayanya kayak ngajar mata kuliah wajib semester satu.”
Kata Petruk: “Perempuan bukan penggembira di organisasi. Mereka itu mesin perubahan—asal gak disuruh bikin kopi tiap rapat.”
FSPM sudah melangkah bagus. Pelatihan seperti ini bukan hanya soal teori, tapi soal keberanian mengakui bahwa organisasi yang sehat adalah organisasi yang siap ditinggal generasi lama tanpa deg-degan.
Harian Nasional Gareng Petruk
Serikat Boleh Serius, Tapi Jangan Kaku















