Oleh : Eko Setyoatmojo (Wartawan Gareng Petruk Klaten)
Klaten, 7 November 2024 — Di tengah riuh rendahnya persaingan politik Pilgub Jawa Tengah, calon Gubernur nomor urut satu, Andika Perkasa, kembali menorehkan momen berkesan. Rabu kemarin, beliau menghadiri acara doa bersama lintas iman di Joglo Saestu, Klaten. Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri ribuan warga serta berbagai tokoh agama, memberikan warna tersendiri di ranah perpolitikan Jawa Tengah.
Acara yang dimulai menjelang sore itu menjadi ajang silaturahmi massal, seakan-akan pesta demokrasi berubah menjadi pesta doa, lengkap dengan lantunan doa dari pemuka agama yang turut mendoakan kemenangan pasangan Andika dan Hendi. Dengan penuh kehangatan, Andika tiba sekitar pukul 16.50 WIB, didampingi oleh Sri Mulyani, Ketua DPC PDIP Klaten, dan disambut bak pahlawan di tanah Klaten.

Dalam orasinya yang tentu tak kalah semangat dengan aroma kopi sore, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan dukungannya pada pasangan ini. “Bung Hendi dipilih bukan tanpa alasan. Bu Mega percaya beliau bisa membawa Jawa Tengah tak hanya maju secara infrastruktur, tapi juga sebagai kota budaya yang toleran. Bukan sekadar membangun, tapi membina kerukunan!” ucap Hasto dengan gaya khasnya yang lugas.
Andika pun memberikan sambutan penuh makna, membahas tantangan yang bakal dihadapi Jawa Tengah. Bukan sekadar pamer visi-misi biasa, tetapi beliau menekankan pada makna dukungan kolektif: “Kita perlu lebih dari sekadar suara, tapi dukungan dari seluruh tokoh, pemimpin, dan masyarakat agar kita benar-benar bisa bersama membangun Jawa Tengah yang maju,” ujarnya.
Dengan lantang, Andika juga menyiratkan harapannya bahwa siapapun nanti yang terpilih, haruslah merangkul seluruh elemen masyarakat. Baginya, tantangan Jawa Tengah tak bisa diselesaikan hanya dengan janji-janji kampanye; perlu persatuan, sinergi, dan dukungan penuh dari semua pihak.
Kritik, Sindiran, dan Sepucuk Harapan
Acara ini menjadi ajang refleksi bagi kita semua, bahwa demokrasi sejatinya adalah kolaborasi, bukan sekadar perolehan suara. Namun, apakah ‘doa bersama’ ini hanyalah sekadar simbol? Atau, benarkah politik kita mulai bergerak ke arah yang lebih ‘santun dan beradab’ seperti yang sering dikampanyekan?
Mari kita lihat bersama, apakah simbol doa lintas iman ini benar-benar mencerminkan niat tulus untuk membangun, atau sekadar bumbu kampanye yang manis namun cepat basi. Yang jelas, masyarakat tetap berharap Pilkada kali ini membawa perubahan nyata, bukan sekadar retorika.
Panggung Politik: Doa dan Harapan
Tak dapat dipungkiri, Andika Perkasa dan Hendi punya magnet tersendiri. Jika kemarin mereka dapat menarik massa dengan doa, ke depan kita harapkan magnet ini terus menarik simpati lewat aksi nyata. Biarlah doa dan upaya mereka menjadi jalan bagi Jawa Tengah yang tak hanya damai tapi juga maju.
Mari kita lihat babak selanjutnya, karena sejatinya, doa yang baik bukan sekadar diucapkan di Joglo, tapi diwujudkan dalam kebijakan yang merakyat.















