Amir Mahfud, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, tengah melakukan road show yang menyalakan semangat politik hingga ke pelosok kota. Dengan langkah yang mantap dan suara yang tegas, beliau mengingatkan seluruh kader partai untuk terus berjaga-jaga dan waspada, terutama menghadapi apa yang ia sebut sebagai “anomali demokrasi.” Apakah ini pertanda gelombang yang sedang melanda dunia politik tanah air? Barangkali. Yang jelas, pesan Pak Amir bukan sekadar basa-basi atau omongan angin lalu.

Di kota Bekasi, pesan ini menggelora seperti kopi yang baru diseduh: kuat, berani, dan bikin melek. Pak Amir menyuarakan dukungannya dengan lantang untuk pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto dan Haris Bobihoe. Beliau menegaskan bahwa kemenangan bukan hanya soal angka di kertas, tapi soal loyalitas dan kesiapan menjaga integritas di tengah gejolak demokrasi yang kerap tak terduga.

Beliau juga menyinggung pentingnya seluruh kader untuk siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi di medan politik. Demokrasi, kata Pak Amir, kadang bisa ajaib, tapi tak jarang juga bisa aneh. “Anomali demokrasi itu nyata,” ujar Pak Amir sambil tersenyum simpul, seolah memberikan pesan tersirat bahwa demokrasi bisa menjelma jadi teka-teki yang tak mudah ditebak.
Menurut Amir, anomali demokrasi bisa datang dalam bentuk apapun: mulai dari taktik hitam yang licik, janji manis yang hanya pemanis, sampai penampilan lawan yang tiba-tiba berubah arah. Makanya, beliau mengingatkan para kader untuk tetap solid dan punya daya tahan yang kuat agar kemenangan bukan hanya di genggaman, tapi juga tetap di dalam hati.
Sungguh, road show ini tak hanya memberikan inspirasi, tapi juga sebuah peringatan. Jika demokrasi adalah panggung besar, maka Bekasi sedang dalam babak penentu, dan Pak Amir seperti sutradara yang siap menyiapkan aktor-aktor terbaik di medan laga politik. Maka, untuk seluruh kader dan simpatisan Partai Gerindra, pesan ini jelas: tetap waspada, solid, dan jangan gampang terlena, karena kemenangan bukan soal angka, tapi soal bagaimana kita menjaga kehormatan di atas panggung demokrasi.
Seluruh kader tidak boleh berada di wilayah abu abu, harus tentukan warnanya, dan jangan melawan perintah Pimpinan, harus tegak lurus kepada Pimpinan. Tegas Amir Mahfud.
















