Hari itu di kelas 3B, Bu Lilis sedang memimpin pelajaran PPKn. Topiknya: cita-cita.
Dengan senyum lebar dan semangat membara, beliau menatap murid-muridnya yang duduk rapi seperti barisan semangka di rak supermarket.
“Anak-anak, kalau besar nanti kalian mau jadi apa?” tanya Bu Lilis.
Sontak tangan-tangan kecil terangkat ke udara.
“Aku mau jadi dokter, Bu!”
“Aku mau jadi pilot!”
“Aku mau jadi YouTuber!”
Giliran si Ranies di pojok belakang. Anak yang satu ini memang terkenal… unik. Kalau tidak bisa dibilang “sering bikin kening orang berkerut.”
Ranies mengangkat tangan dengan santai. “Bu, saya masih bingung.”
“Bingung? Kenapa, Ranies?”
“Cita-cita saya ada dua, Bu. Antara mau jadi koruptor atau konten kreator.”
Ruangan mendadak hening. Bahkan jangkrik pun kayaknya ikutan tahan napas.
Bu Lilis menelan ludah. “E-eh… maksud kamu?”
Ranies berdiri dari kursinya, menjelaskan dengan gaya Steve Jobs presentasi iPhone pertama.
“Soalnya, saya suka desain, Bu. Kalau jadi koruptor, saya bisa desain sistem yang ruwet tapi tetap bisa saya akali sendiri. Kalau jadi konten kreator, saya bisa desain konten-konten keren yang bikin orang nonton sambil ngakak.”
Bu Lilis masih terdiam, antara takjub dan panik.
Ranies melanjutkan dengan polos, “Dua-duanya punya nilai seni yang tinggi, Bu. Dan yang paling penting… dua-duanya bisa dinikmati. Satu dinikmati sendiri, satu dinikmati banyak orang. Adil, kan?”
Teman-teman sekelas sudah mulai cekikikan. Sementara Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, mencoba merangkai kata bijak yang cocok, tapi dalam hati hanya bisa berkata:
“Tolong… ini anak jangan sampai masuk politik.”
















