“Negara ini katanya cinta sejarah, tapi kok pelit kasih gelar ke penjaga sejarah itu sendiri?”
17 Agustus 1945. Di saat sebagian orang sedang rebahan sambil nunggu kabar Indonesia merdeka atau belum, dua lelaki bersaudara justru jungkir balik cari sudut terbaik buat motret sejarah. Bukan selfie, bukan candid TikTok—tapi detik-detik Bung Karno membacakan Proklamasi!
Nama mereka? Frans Mendur dan Alex Mendur. Dua wartawan foto. Lensa mereka jadi mata sejarah, kamera mereka jadi kitab suci kemerdekaan.
Tanpa keduanya, kita cuma bisa nebak-nebak:
“Eh Bung Karno waktu bacain teks proklamasi bajunya putih ya?”
“Eh itu podium atau meja makan siang?”
“Eh yang dengerin ada berapa orang sih?”
Kalau Frans dan Alex waktu itu ikut sembunyi karena takut Jepang, ya udah… sejarah Indonesia mungkin cuma tinggal dongeng warung kopi. Tapi mereka milih lawan ketakutan itu pakai kamera. Jepret! Dan hasilnya? Jadi warisan abadi bangsa.
Masalahnya, negara kita ini kadang lupa. Lupa siapa yang jagain sejarahnya. Lupa siapa yang bikin kita bisa lihat wajah kemerdekaan, bukan cuma ngebayangin lewat puisi-puisi mata pelajaran PPKN.
Sudah 80 tahun Indonesia merdeka, tapi Frans dan Alex belum juga dapat gelar Pahlawan Nasional.
Lho, lho, lho…
Yang selfie bareng tokoh politik aja bisa dapat jabatan. Ini yang motret sejarah bangsa kok malah di-zoom out dari perhatian?
KAMI SERIUS NIH, NEGARA JANGAN BERCANDA!
Forum Pemred Media Siber Indonesia, diwakili Ketua Umum Dar Edi Yoga dan Sekjennya yang punya nama gagah Penerus Bonar Karo-Karo, angkat suara.
“Apalah arti proklamasi kalau tak diwariskan? Dan apa artinya warisan jika tak ada yang menyelamatkannya?” kata Dar Edi Yoga, sambil pegang mikrofon bukan buat karaoke, tapi buat nyolek nurani negara.
Bonar pun menambahkan:
“Kita akan bentuk Komite Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional buat Frans dan Alex Mendur. Ini bukan soal gelar, tapi soal keadilan sejarah.”
Ya, benar!
Sudah saatnya negara disadarkan:
Bahwa pahlawan bukan cuma yang angkat bambu runcing, tapi juga yang angkat kamera waktu nyawanya bisa melayang.
Yang bertempur bukan cuma di medan perang, tapi juga di ruang gelap kamar cuci cetak foto dengan risiko ditangkap Jepang.
Gareng Berkata:
Kalau yang cuma kirim tweet bisa viral, masa yang nyumbang wajah kemerdekaan malah dicuekin?
Kalau yang teriak-teriak di podium bisa diangkat jadi pahlawan daerah, masa yang diam-diam motret Bung Karno proklamasi malah gak dapat apa-apa?
Negara jangan cuma merayakan kemerdekaan pakai balon dan lomba makan kerupuk.
Merayakan itu juga berarti mengakui siapa yang bikin momen itu bisa dikenang!
Catatan dari Rakyat Waras:
Kalau patung proklamator bisa berdiri megah,
Kalau arsip bisa disimpan dalam museum,
Kalau teks bisa dibaca di upacara tiap tahun,
Kenapa wajah-wajah yang menjadikan itu nyata… malah tak dapat kehormatan?
Hashtag Wajib Viral:
#FransAlexMendurPahlawanNasional
#IndonesiaTanpaGambar
#PahlawanTanpaSeragam
#KameraJugaSenjata
#GarengPetrukSindirLagi
“Negara harus peka. Jangan nunggu kamera waktu itu rusak dulu, baru sadar betapa berharganya mereka.” — Gareng Petruk, Editor yang lebih suka motret kebenaran daripada pencitraan.
















