GARENGPETRUK.COM —
Kalau Semar jadi menteri kehutanan, Petruk jadi kepala Pertamina, dan Gareng jadi jaksa agung, mungkin negeri ini bakal lebih lucu tapi nggak sebobrok ini.
Lho kok bisa?
Coba kita tengok sebentar, ngopi dikit, lalu merenung… tentang dua jenis pelanggar hukum di negeri kita yang sama-sama nabrak aturan tapi level dosanya beda galaksi.
Yang satu: petani sawit dan pengusaha perkebunan sawit yang buka lahan di kawasan hutan.
Yang satu lagi: Don Riza Chalid, mafia minyak kelas kakap laut dalam yang ngoplos harga BBM dan crude oil sampai negara megap-megap.
Keduanya sama-sama ilegal. Tapi kalau yang satu masih ngasih rakyat kerja, yang satu lagi malah ngasih rakyat hutang dan harga bensin mahal.
Yok, kita bedah sambil ngudud jagung bakar.
Petani Sawit: Nabrak Aturan, Tapi Nambah Pekerjaan
Gareng bilang:
“Kalau mereka nanem sawit di hutan itu salah, tapi masa semua yang salah langsung dipukul rata tanpa lihat konteks? Wong negara aja numpang hidup dari sawit kok!”
Emang betul. Sawit yang ditanam di kawasan hutan itu melanggar peraturan. Tapi jangan lupa: dari situ keluar devisa, lapangan kerja, dan daerah berkembang.
Negara ini bisa dapat cuan ekspor dari jerih payah petani kecil yang nekat buka lahan karena negara nggak nyediain alternatif.
Petruk nambahin:
“Sawit itu kayak PKL berdagang di trotoar. Salah sih, tapi dia modal sendiri, ngelawan panas dan hujan. Lah, bandingin sama pengusaha besar yang dapet tender tapi duitnya nguap!”
Don Riza Chalid: Dagang Crude Oil ala James Bond Versi Kelapa Dua
Sekarang kita ke babak plot twist-nya ekonomi Indonesia: Don Riza Chalid, sang legenda gelap mafia migas.
Namanya sering disebut-sebut dalam dugaan praktik korupsi migas kelas kakap, dari markup harga crude oil sampai pengoplosan BBM. Kalau benar, ini bukan hanya ngerugiin negara, tapi juga ngisep darah rakyat pelan-pelan lewat harga BBM yang mestinya bisa murah.
Gareng ngomel:
“Wong gaji rakyat belum naik, harga BBM naik. Sementara si Don ngitung untung sambil nyemil kacang di atas kapal tanker. Dosa kelas multi-level!”
Dampaknya apa?
Negara yang sudah ngos-ngosan bangun infrastruktur pakai utang ribuan triliun, gagal dorong pertumbuhan ekonomi karena korupsi seperti ini membuat biaya ekonomi tinggi.
Rakyat dipaksa kuat, padahal negara disedot dari belakang.
Keadilan Versi Rakyat Kecil
Nah, inilah poin penting yang disampaikan penulis:
Kalau mau menertibkan perkebunan sawit ilegal, jangan hanya garang ke rakyat kecil. Lihat dulu siapa yang sebenarnya merugikan negara secara sistemik.
Kalau petani sawit ditertibkan kayak operasi PKL, harusnya mafia migas juga ditertibkan kayak operasi militer!
Petruk nyeletuk sambil nyengir:
“Yang satu dagang di trotoar hutan, yang satu dagang di dermaga kecurangan. Tapi kenapa cuma yang dagang kecil yang digusur? Yang gede disambut pake karpet merah dan parfum ruangan?”
Mas Prabowo, Mau ke Mana Arahmu?
Pesan terakhir dari penulis—yang ngakunya sahabat Mas Prabowo—mengingatkan agar sang presiden memilih berlaku adil.
Jangan cuma tajam ke bawah, tumpul ke atas. Jangan cuma galak ke petani sawit, tapi gemetar kalau nyebut mafia migas.
Semar pernah bilang ke Yudistira:
“Adil itu bukan soal aturan, tapi soal rasa. Kalau rakyat kecil nggak dikasih ruang hidup, jangan harap negara bisa berdiri tegak.”
Jadi, Mas Prabowo, kalau ingin dikenang sebagai pemimpin sejati, pilihlah jalan keadilan rakyat. Bukan jalan aspal yang dibangun dari minyak oplosan.
Opini ini ditulis oleh Arief Poyuono, sahabat Prabowo dan pengagum Semar, yang yakin bahwa keadilan bisa dimulai dari kue goreng dan sawit rakyat.
Editor: garengpetruk.com
“Kami menyajikan opini dengan tawa, agar rakyat tetap waras meski negaranya kadang nggak waras.”
















