Surabaya – Kalau ada yang bilang hidup itu berat, mungkin belum pernah jadi ulat. Lah, coba bayangin: kecil, lemah, dijijiki, eh… harus puasa di dalam kepompong dulu, baru bisa jadi kupu-kupu cantik. Nah, kira-kira beginilah falsafah hidup yang diangkat pelukis Buggy Budiyanto, sang maestro kupu-kupu dari Ploso, Surabaya.
Dalam pameran lukisan memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (20–27 Mei 2025), Buggy tampil bukan kayak pelukis biasa yang cuma jual warna, tapi jual rasa—plus filosofi dalam tiap sapuan kuasnya. Lukisan yang ditampilkan? Jelas, isinya penuh kupu-kupu. Tapi jangan salah sangka! Ini bukan serangga biasa, tapi simbol hidup manusia dari ulat sampai insaf—eh, maksudnya sampai sadar akan makna syukur.

Petruk nyeletuk:
“Lha ini keren, Rek. Kupu-kupu di tangan Buggy itu kayak ceramah visual. Sekali lihat lukisan, langsung kayak diajak mikir, ‘Aku ini sedang di tahap ulat, kepompong, atau udah kupu-kupu tapi malah takut terbang?’”
Gareng nambahin sambil makan tahu isi:
“Buggy itu kayak dalang, tapi dalangnya cat dan kanvas. Lakonnya? Ya si kupu-kupu tadi. Tiap warna, tiap sayap, ada kisah dan sindiran. Maknanya dalem, tapi gayanya santai. Pas banget buat generasi rebahan yang males baca buku filsafat!”
Buggy, yang akan berulang tahun ke-63 bulan depan, emang bukan pelukis kaleng-kaleng. Otodidak, tapi karyanya nggak asal gores. Udah puluhan tahun konsisten ngangkat tema kupu-kupu. Ada yang terbang di atas Borobudur, ngelilingi penari Jawa, sampai nyempil di antara planet dan naga hijau. Imajinasi bebas tapi tetap bertali dengan akar budaya dan spiritualitas.
Sindiran halus ala Petruk:
“Ini loh seniman yang beneran berkarya, bukan yang selfie sambil lukis kopi di gelas, terus ngaku visioner!”

Gareng menimpali:
“Lukisan Buggy ngajarin kita: jadi indah itu butuh proses. Tapi kadang masyarakat maunya instan—pengen jadi kupu-kupu tanpa mau jadi ulat dulu. Lah, gimana mau terbang kalau belum pernah merayap?”
Buggy nggak cuma lukis kupu-kupu, tapi juga menyisipkan nilai-nilai sosial: tentang rukun, tepo sliro, dan welas asih. Bahasa sederhananya: kalau pengin hidup enak, ya harus hidup baik. Jangan mentang-mentang bisa terbang malah nabrak orang.
Penutup bijak ala duo waras tapi nyeleneh:
Jadi, daripada hidupmu cuma penuh feed Instagram dan video receh, mending sekali-sekali datangin galeri, lihat lukisan Buggy. Siapa tahu… kamu yang sedang jadi kepompong, jadi tergerak untuk segera metamorfosa.
#KupuKupuBukanCumaCantik #FilosofiBuggy #GarengPetrukMelukisDenganLidah
Untuk Buggy, tetap semangat, Pak! Kami doakan semoga pameran di Jakarta lancar dan tak tergilas oleh algoritma konten dangkal.
Kalau nanti kupu-kupunya bisa ngomong, mungkin mereka bilang:
“Syukurilah hidupmu, Mas… karena kami aja harus nunggu jadi kupu-kupu buat bisa selfie di bunga!”
















