Cak, rek, dulur kabeh!
Ngaku wae… siapa minggu lalu upload foto pakai batik tapi caption-nya bahasa Inggris?
“Feeling grateful in my roots. #localpride #globalstyle”
Tenang wae. Gak salah. Tapi ini lho yang sedang kita hadapi:
Budaya kita di-remix.
Dicampur, diputar ulang, kadang dikasih efek bumbu internasional biar kelihatan keren. Tapi, pertanyaannya:
“Apakah budaya kita berkembang? Atau cuma ikut arus biar kelihatan kekinian?”
Difusi Budaya: Budaya Luar Masuk Tanpa Ketok Pintu
Difusi itu proses penyebaran budaya dari satu tempat ke tempat lain. Ibarat tetangga baru bawa rendang, eh kita ketagihan.
Dulu anak-anak main egrang, sekarang main TikTok joget lagu Korea pakai filter anime dan efek sparkling.
Menurut Thomas Hylland Eriksen (2015), globalisasi mempercepat arus budaya lintas batas, kadang bikin kita lebih hafal “culture luar” ketimbang budaya tetangga sendiri.
Akulturasi: Tradisi dan Tren Lagi Nembak
Akulturasi itu ketika dua budaya ketemu, lalu kawin ide.
Contoh: nikahan adat Jawa tapi pengantinnya jalan pakai sneakers sambil diiringi lagu Coldplay versi keroncong.
Kata Koentjaraningrat (2015), akulturasi itu pengaruh budaya asing yang masuk tanpa menghilangkan unsur budaya lama. Tapi, kalau masuknya cuma buat gaya-gayaan, itu bukan akulturasi… itu pencitraan budaya.
Asimilasi: Menyatu atau Luntur?
Asimilasi adalah proses budaya minoritas larut ke budaya mayoritas hingga kehilangan bentuk aslinya.
Misalnya: keturunan etnis X di kota besar yang malu pakai bahasa neneknya karena takut dikira “kampungan”.
Ulf Hannerz (2010) menyebutkan bahwa dalam masyarakat multikultural, asimilasi kadang jadi tekanan tak kasatmata.
“Jadi Indonesia” bukan berarti harus “menjadi seragam”.
Inovasi Budaya: Tradisi Naik Vespa
Inovasi budaya penting agar budaya tetap relevan. Tapi jangan asal remix.
Contoh bagus: gamelan dipadukan dengan EDM untuk panggung festival.
Contoh ngawur: tari topeng Cirebon dipakai buat konten horor prank di YouTube.
Menurut Ariel Heryanto (2010), budaya pop bisa menjadi ladang inovasi lokal asal tetap memperhatikan konteks sosial, nilai, dan identitas budaya.
Kesimpulan Ala Gareng & Petruk Corp:
Budaya bukan fosil. Ia hidup, tapi juga bisa mati kalau cuma dijadikan konten sesaat.
Kalau kita terus jadi penonton, ya jangan salahkan algoritma kalau budaya lokal tenggelam.
Mari kita jadi generasi yang ngerti bedanya:
- Difusi dan disusupi
- Akulturasi dan asal nyampur
- Asimilasi dan hilang identitas
- Inovasi dan ilusi demi validasi
Salam budaya,
dari kami, dua punakawan yang masih waras di tengah dunia yang viral. ☕
Gareng – bagian logika
Petruk – bagian satir dan estetika
Daftar Referensi:
1. Eriksen, Thomas Hylland. (2015). Small Places, Large Issues: An Introduction to Social and Cultural Anthropology (4th ed.). Pluto Press.
2. Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revisi). Jakarta: UI Press.
3. Hannerz, Ulf. (2010). Cultural Complexity: Studies in the Social Organization of Meaning. Columbia University Press.
4. Heryanto, Ariel. (2010). Pop Culture and Identity Politics in Indonesia. Routledge.
5. Appadurai, Arjun. (2013). The Future as Cultural Fact: Essays on the Global Condition. Verso.
6. Nilan, Pam & Feixa, Carles (Eds.). (2016). Youth, Globalization and the Law: International and Comparative Perspectives. Palgrave Macmillan.
7. Nugroho, Yanuar. (2012). Cultural Production in Indonesia: Identity and Globalisation. Routledge.
















