BANYUWANGI, garengpetruk.com –
Kalau biasanya utang itu urusan pribadi—kayak nyicil motor atau ngutang pulsa—kali ini utang jadi urusan rame-rame se-Banyuwangi!
Bayangin, Rp 490 miliar mau dipinjam, katanya sih buat pembangunan. Tapi rakyat yang masih mikir mau beli beras 5 kilo atau bensin 2 liter, malah disodori rencana jangka panjang yang bisa bikin jantung deg-degan.
Dan seperti biasa, rakyat yang akalnya masih waras gak tinggal diam.
PUSKAPTIS (Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis) menyurati Kapolresta, bukan buat ngajak ngopi, tapi buat ngasih tahu bakal gelar aksi damai besar-besaran.
Aksi Damai Tapi Tegas: “Menolak Banyuwangi Bangkrut”
Kamis, 26 Juni 2025, jam 10.00 WIB.
RTH Keduyunan jadi titik kumpul. Tapi ini bukan reuni alumni,
ini gerakan rakyat yang ogah daerahnya jadi korban utang berjamaah.
Lima ribu orang siap turun ke jalan.
Ada yang bawa megaphone, banner, dump truk, sampai sepeda motor—pokoknya lengkap kayak mau ngawal pengantin,
tapi yang dikawal kali ini: akal sehat!
Mohamad Amrullah, S.H., M.Hum, Direktur PUSKAPTIS, bilang ini bukan soal politik,
tapi soal logika.
“Masak rakyat masih ngutang di warung, pemerintah malah ngutang ke bank? Piye jal?”
Banyuwangi, Surga Wisata atau Neraka Angsuran?
Kata dokumen Perubahan Anggaran Sementara (PAK) 2025, pinjaman itu katanya buat pembangunan strategis.
Tapi yang strategis buat siapa?
Strategis buat rakyat atau strategis buat proyek pemanasan mesin jelang 2029?
Gareng sempat ngopi sambil ndengerin tukang tambal ban curhat,
“Mas, kalau utangnya buat nambal jalan bolong, ya oke lah. Tapi kalau buat nambal ambisi, rakyat bisa jadi korban kebijakan gak pakai rem.”
Gareng Petruk: Utang Daerah Itu Gak Salah, Tapi Salah Kalau…
Kita paham, pembangunan perlu dana. Tapi utang itu kayak sambel terasi: dikit bisa sedap, kebanyakan bisa bikin mules.
Apalagi kalau:
Rakyat gak diajak diskusi
Proyek gak jelas ujung pangkalnya
DPRD cuma angguk-angguk kayak boneka dashboard
Dan pemerintah sibuk bilang “tenang saja”, padahal dompet daerah udah megap-megap.
Akhirnya rakyat mikir:
“Kalau Pemda boleh ngutang miliaran, apa warga juga boleh ngutang bayar PBB?”
Tolak Utang, Tolak Buta Hati, Ayo Pakai Nalar dan Nurani
Gareng gak anti pembangunan,
tapi Gareng anti pembangunan yang bikin generasi cucu harus bayar bunga!
Utang itu bisa jadi solusi,
tapi jangan sampai jadi ilusi yang hanya menyenangkan elite, menyusahkan rakyat kecil, dan meninggalkan beban struktural jangka panjang.
“Kalau memang untuk rakyat, ayo buka datanya, ajak dialog terbuka. Jangan cuma dibahas pas rakyat lagi sibuk mikir harga cabai,” kata Gareng sambil geleng-geleng pakai peci miring.
26 Juni nanti, suara rakyat akan bergema:
“Jangan jadikan Banyuwangi ladang utang, tapi jadikan Banyuwangi ladang harapan.”
Salam akal sehat!
Salam dari Gareng dan Petruk, yang lebih percaya gotong royong rakyat daripada rapat diam-diam di ruangan ber-AC.















