Banyuwangi – Kota Gandrung yang makin menggandrungi lingkungan!
Bukan cuma nyiapin sambal tumpang dan pecel buat wisatawan, kali ini Banyuwangi nyiapin tempat sampah kelas internasional. Bukan kaleng-kaleng, sobat! Tiga fasilitas pengolahan sampah dengan total kapasitas 260 ton per hari siap dibangun. Kalau kata emak-emak: “Wes wayahe Banyuwangi ora mung resik kamar, tapi resik bumi juga!”
—
Bukan Cuma Mimpi: Dana dari Arab dan Austria, Bukan dari Cuan Arisan RT
Bayangkan: perjanjian pendanaan ditandatangani di World Governments Summit 2025, Dubai. Disaksikan langsung sama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian!
Gareng langsung ngelus dada: “Waduh, ndang dibangun aja, keburu sampah tambah subur!”
Untungnya, pembangunan dijadwalkan mulai akhir Mei. UEA dan Austria bukan cuma kirim doa, tapi juga tenaga, teknisi, dan niat tulus—semoga bukan karena pengin selfie di Ijen.
—
Dari TPS sampai SPA: Bukan Tempat Pijet, Tapi Tempat Sampah Kelas Dunia
Yang akan dibangun:
1. TPS 3R di Purwoharjo: Kapasitas 160 ton/hari, cakup 37 desa di 8 kecamatan. Bayangkan, sampah-sampah bisa ngumpul, direduksi, dipakai ulang, dan didaur ulang. Mungkin kalau sampah bisa ngomong, dia bakal bilang: “Akhirnya aku diurus, bukan cuma disumpah serapah!”
2. 2 SPA alias Stasiun Peralihan Antara: Masing-masing tampung 50 ton. Ini bukan stasiun KRL, tapi tempat mampir sampah sebelum dibikin glowing dan berguna lagi.
—
Dari Project Stop ke Project Sip!
Sebelumnya Banyuwangi udah punya TPS di Muncar dan Songgon. Dan ternyata, Project Stop sejak 2018 bukan berarti programnya stop, tapi justru start ke fase-fase berikutnya.
Fase 2 disokong Austria (yang biasanya sibuk bikin cokelat), Fase 3 dari Clean Rivers UEA (yang biasanya sibuk bangun gedung tinggi, sekarang bantu buang sampah rendah).
Resminya, program ini diluncurkan 22 Mei nanti. Gareng siap datang pake sarung dan kantong kresek: biar tahu diri, kita ini penyumbang sampah juga, bukan cuma penyumbang opini di grup WhatsApp!
—
Petruk Menyimpulkan:
Gus Dur dulu bilang, “Negara ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur.”
Nah, soal sampah juga begitu: kita nggak kekurangan tukang buang, tapi kekurangan yang mau urus. Maka, Banyuwangi kasih contoh: bukan cuma pidato soal lingkungan, tapi nginjak tanah dan pegang sekop!
Pesan moral:
Sampah itu bukan aib, tapi tanggung jawab.
Jangan cuma andelin Arab dan Austria, diri sendiri juga kudu sadar.
Kalau buang sampah masih dari jendela mobil, artinya bukan kamu yang modern, tapi jiwamu yang jadul.
—
Gareng Petruk pamit. Ingat, bersih itu bukan dari casing HP, tapi dari hati & got!
#TPSBukanTempatPelesiran #BanyuwangiBebasSampah #GarengPetrukBersabda
















