Kangean Raya, 8 Juni 2025 — Kalau biasanya kita dengar proposal itu identik dengan pengajuan dana karang taruna buat beli bola voli, kali ini beda. Ini bukan proposal sembarang proposal, kawan. Ini proposal maha lobster!
Bandar Laut Dunia Grup alias BALAD Grup, bikin gebrakan yang bikin nelayan manggut-manggut dan politisi megap-megap. Gimana nggak? Mereka resmi mengajukan 16 proposal budidaya lobster di 16 teluk di gugusan Kangean, dan kabarnya—alhamdulillah ya sayang~—sudah 14 teluk masuk proses perizinan, sebagian malah sudah keluar PKKPRL-nya.
PKKPRL?
Tenang, itu bukan nama partai baru atau singkatan komunitas karaoke, tapi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut—semacam “STNK-nya” laut biar sah buat dibudidayain.
Masih ada dua teluk lagi yang belum presentasi, mungkin masih grogi atau lagi pilih baju terbaik buat ketemu pejabat pusat. Tapi kata kabar angin laut (dan grup WhatsApp), minggu depan semua 16 teluk bakal selesai urusan izinnya.
Total luasnya?
Bukan main! 8.800 hektar, saudara-saudara! Itu bukan cuma luas, itu super luas! Kalau dijadiin lapangan bola, bisa buat Liga Antariksa. Tapi untung ini bukan buat main bola, tapi buat main lobster.
—
Lobster, oh lobster…
Makhluk yang biasanya hidup malu-malu di bawah karang, sekarang jadi harapan masa depan bangsa. BALAD Grup bahkan bilang: “Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai kiblat baru dunia usaha perikanan budidaya.”
Wahai dunia!
Kalau kemarin kalian nyembah Norwegia untuk salmon dan Jepang untuk tuna, siap-siap kiblatmu geser ke arah Nusantara: RI untuk Lobster!
—
Tentu saja, semua ini kabar baik. Tapi Gareng Petruk (dengan sandal jepit dan hati yang waspada) tetap ngingetin:
> Laut bukan hanya tempat proyek, tapi juga tempat hidup.
Jangan sampai nanti lobster-nya bahagia, tapi nelayannya malah merana.
Jangan juga tambak tumbuh subur, tapi mangrove malah tumbang,
Jangan sampai izin dipercepat, tapi pengawasan malah dipelankan.
Karena sejarah bangsa ini punya satu kutukan:
“Setiap ada niat baik, selalu dibuntuti niat lain yang lebih menguntungkan.”
—
Tapi kita doakan yang terbaik.
Lobster ini bukan sekadar bisnis, tapi peluang mengangkat derajat pesisir.
Asal jangan sampai warga lokal cuma jadi penonton sambil jual es kelapa di pinggir teluk,
sementara investor merokok di atas kapal mewah sambil selfie dengan caption,
“Budidaya bukan main, cuan bukan kaleng-kaleng.”
—
Akhir kata…
Semoga BALAD Grup benar-benar jadi balad rakyat laut,
bukan sekadar balad pemilik modal.
Karena laut itu bukan halaman belakang korporasi,
tapi ruang hidup anak cucu kita.
Dan ingat!
Kalau laut itu biru, jangan dicemari dengan niat abu-abu.
Kalau lobster itu mahal, jangan sampai moral kita jadi murah.
(Gareng Petruk – menulis sambil mengkhayal punya tambak lobster satu meter persegi, cukup buat mimpi dan bikin konten TikTok edukatif) 🎣📱
















