Jember, garengpetruk.com – Kamis, 19/06/2025. Suasana Pendapa Wahya Wibawagraha siang itu seperti pasar tiban yang ketiban durian runtuh dan juga pisang busuk. Mulai pukul 13.00 WIB, tempat yang biasanya tenang, mendadak ramai. Ada yang senyum sumringah, ada yang pucat seperti baru diputus pacar, dan ada juga yang senyum-senyum sambil nahan deg-degan kayak nunggu pengumuman UTBK.
Para pejabat datang berseragam rapi, sebagian bahkan menyemprot parfum berlebihan—barangkali biar rezeki mutasinya ikut wangi. Di sisi lain, wartawan dari berbagai media nongkrong berjajar seperti pasukan nasi bungkus menanti kabar hangat dari dapur pemerintahan Gus Fawait, Bupati Jember tercinta.
Dan jreng jreng jreeeng!
Resmi diumumkan: 21 pejabat Eselon II digeser dari kursinya masing-masing. Ada yang naik pangkat, ada yang pindah jalur, dan tentu ada pula yang belum tahu nasibnya. Daftarnya panjang, seperti antrean BPJS, tapi kami tulis lengkap buat sampeyan semua yang budiman:
- Jupriono (BPKAD), Imam Fauzi (Bapenda),
- Adi Wijaya (Asisten 1),
- Dr. Hendro (Asisten 2),
- Imam Sudarmaji (Staf Ahli),
- Rahman Anda (Staf Ahli),
- Agus Wijaya (Staf Ahli),
- Yuliana Harurti (Disnaker),
- M. Jamil (DP3AKB),
- Hari Agustriyono (DPMD),
- Zamroni (Disperindag),
- Widodo Julianto (Peternakan),
- Sugiyarto (Perikanan),
- Suprihandoko (DLH),
- Indra Tri Purnomo (BPBD),
- Murdiyanto (Perpustakaan & Arsip),
- Andi Prastowo (Pertanian),
- Regar Jeane (Plt. Asisten 3),
- Helmi Luqman (Plt. Kadinkes),
- Gatot Triyono (Plt. Kadishub),
- Yessiana (Plt. PU Cipta Karya).

Gus Fawait, sang bupati, dalam pidatonya menjelaskan:
“Yang digeser bukan berarti buruk, yang tidak digeser bukan berarti paling kinclong. Ini soal rotasi dan kebutuhan organisasi.”
Bahasa diplomatis yang artinya kira-kira: “Kursi ini milik rakyat, tapi sementara panjenengan pakai, ya tolong jaga baik-baik. Kalau nggak cocok, ya diganti, kayak bohlam yang mulai meredup.”
Lebih lanjut, Gus Fawait memberikan angin segar—tapi juga ada syaratnya. Beliau memperbolehkan para Kepala OPD melakukan kunjungan kerja ke luar daerah meski pusat lagi getol kampanye hemat anggaran.
Tapi ingat!
“Boleh jalan-jalan, asal pulang bawa oleh-oleh berupa program nyata, bukan cuma stempel hotel dan foto selfie di lobi kementerian.”
Sontak Gareng nyeletuk,
“Wes wayahe pejabat ora mung foto ngeloni spanduk, tapi kudu bisa ngajak pulang bantuan dana!”
Dan Petruk menambahi,
“Ngopi di Jakarta boleh, asal pulangnya bawa proposal disetujui, bukan cuma bawa tote bag seminar.”

Analisa Gokil Gareng-Petruk:
Perombakan ini bagai drama sinetron panjang. Ada yang bahagia kayak ketemu mantan yang udah tobat, tapi ada juga yang nyesek seperti cicilan rumah nunggak 3 bulan. Tapi inilah roda birokrasi. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang nggak tahu di mana.
Yang penting, jangan sampai pergeseran cuma jadi ritual lima tahunan tanpa arah. Jangan pula OPD jadi kayak boyband, yang sering ganti personel tapi lagunya itu-itu aja: “Kami akan bekerja maksimal demi rakyat.”
Buat pejabat baru:
Selamat duduk di kursi panas!
Ingat, rakyat bukan cuma pengamat. Kami juga penilai, pengkritik, dan pengharap. Jangan hanya kerja keras saat disorot kamera. Tapi bekerja cerdas, ikhlas, dan penuh integritas—meski tak ada wartawan di sampingmu.
Dan terakhir, dari kami di Biro Gareng-Petruk,
“Selamat bekerja, Bapak/Ibu! Semoga tidak hanya pandai menyusun program, tapi juga pandai mendengar suara warung kopi. Sebab di sanalah suara rakyat sejati berbisik tanpa protokoler.”
Salam ngopi dari Jember, tempat segala hal bisa lucu tapi juga serius!
Gareng: “Jangan terlalu takut mutasi, takutlah kalau rakyatnya terus miskin.”
Petruk: “Karena kalau rakyat lapar, birokrasi nggak ada artinya.”
garengpetruk.com | Biro Jember
Berita serius yang dibumbui ketawa. Tapi jangan lupa, sindiran kami bukan untuk dibantah—tapi untuk direnungi.
















