Trenggalek, 19 Mei 2025
Ada hari-hari di mana langit tak hanya menurunkan hujan, tapi juga air mata. Senin itu, 19 Mei 2025, warga RT 16 RW 7 Dusun Kebon Agung, Desa Depok, Kecamatan Bendungan, dikejutkan oleh tanah longsor yang meluncur secepat harapan hilang.
Tiga rumah tertimbun. Sepuluh lainnya terdampak. Dan enam jiwa yang dicintai keluarga mereka, hingga laporan ini ditulis, belum ditemukan.
Korban hilang:
1. Ibu Mesinem
2. Mbak Nitin
3. Pak Tulus
4. Yatini
5. Mbah Yatemi
6. Torik

Petruk menyeka peluh dan air mata,
“Ini bukan hanya angka di laporan. Ini adalah nama-nama yang setiap pagi menyapu halaman, menanak nasi, menebar senyum. Kini, rumah mereka hilang, dan kita bertanya: Di mana negara saat warganya butuh pelukan?”
Kerusakan yang terjadi:
Rumah rusak berat: 10 unit
Jumlah KK terdampak: 10
Jiwa terdampak: 30
Bantuan dari pemerintah: Belum ada
Dapur umum: Belum tersedia
Personel Tagana: Turun langsung ke lokasi, dipimpin Wahyudi Anwar
Gareng menggeleng pelan:
“Yang cepat itu longsor. Yang lambat itu bantuan. Padahal, warga tak bisa makan harapan. Mereka butuh beras, bukan basa-basi.”
Meski begitu, Tagana Kabupaten Trenggalek tak menunggu aba-aba. Mereka mendatangi lokasi, melakukan pendataan, memberikan pertolongan semampu mereka. Bukan karena kamera, bukan karena perintah, tapi karena panggilan kemanusiaan.
Namun pertanyaan besar masih menggantung:
Di mana dapur umum?
Di mana tenda darurat?
Di mana logistik?

Sindiran halus dari kami yang masih pakai sendal jepit:
Kalau bisa rapat darurat dengan cepat, kenapa bantuan darurat masih tertinggal?
Kalau bisa kampanye sampai dusun, kenapa logistik belum sampai ke dapur warga?
Kami tahu, bencana tidak bisa diprediksi. Tapi kecepatan respon bisa dilatih. Bukan hanya oleh relawan, tapi oleh mereka yang gajinya sudah pasti.
Penutup dari Gareng & Petruk:
Ini bukan sekadar laporan. Ini adalah permohonan dalam bentuk tulisan.
Untuk kalian yang punya kuasa dan anggaran: bergeraklah. Bukan karena publik menyorot, tapi karena nurani masih hidup.
Salam dari Trenggalek,
Gareng & Petruk
Melaporkan dengan mata berkaca, dan hati yang berharap.
















