Pagi itu, kampung Tegal Anyar penuh dengan aroma… mie goreng dan harapan.
Bagong, anak semata wayang Pak Parto dan Bu Suminah, akhirnya masuk sekolah baru. Seragam baru, sepatu baru, semangat baru, tapi… ekonomi tetap lama.
“Selamat Sekolah, Nak!”
Jam 6 pagi, Bu Suminah sudah jungkir balik di dapur. Minyak tinggal sisa dua sendok, telur cuma ada satu, dan mie instan sudah hampir mekar di dalam bungkus karena kelembaban harapan.
“Pokoknya hari ini harus sarapan!”
Bu Suminah mendeklamasikan itu sambil ngutang lagi di warung Bu Tik.
Pak Parto cuma diam. Sambil menghisap rokok tingwe, dia menatap langit—mencari inspirasi atau pinjol yang belum lunas. Ojek lagi sepi, pelanggan tinggal janji, dan aplikasi sudah tak lagi berbunyi.
“Uang Jajan Dari Mana, Parto?”
Pertanyaan itu menggelantung di udara macam cucian belum kering.
Bu Suminah menatap suaminya, yang balas menatap lantai. Bukan karena malu, tapi karena semut pun pergi ke tetangga sebelah—di sana lebih banyak remah rezeki.
Akhirnya diputuskan: bekal Bagong adalah mie goreng dan telur ceplok cinta.
Tanpa uang jajan, tanpa jajanan kantin. Tapi dengan penuh doa, dan sedikit micin.
Bagong: Bocah yang Belum Kenal Inflasi
Bagong berangkat ke sekolah baru dengan senyum selebar tupperware hilang.
Dia melompat-lompat di jalan, menyapa kambing, mengejar angin, dan melambaikan tangan ke anak-anak lain yang juga menyembunyikan keresahan orang tua mereka dalam ransel penuh semangat.
Bagong belum tahu apa itu inflasi.
Dia juga belum ngerti apa itu BI Rate, pengangguran terbuka, daya beli, atau kenapa mie instan dulu 1.200 sekarang 3.500 dan kuahnya makin kecil.
Yang dia tahu: hari ini sekolah. Hari ini bertemu teman baru. Hari ini… ada telur ceplok di bekal!
Malamnya, Bapak Punya Petuah
Di malam yang sunyi, tanpa sinetron dan sinyal, Pak Parto duduk di pinggir dipan. Bagong mendekat, masih mengenakan celana sekolah yang sudah belel kena lompatan pagar.
“Nak,” kata Pak Parto, “sekolah itu penting. Biar kamu pinter.”
“Tapi,” lanjutnya pelan, “jangan cuma pinter. Harus benar.”
Bagong mengernyit, “Benar gimana, Pak?”
Pak Parto tersenyum, pahit manis seperti teh tubruk tanpa gula.
“Pinter itu bisa bikin kamu kerja di kantor. Tapi kalau nggak benar, bisa juga bikin kamu korupsi.
Pinter itu bisa bikin kamu jadi menteri. Tapi kalau nggak benar, bisa juga jadi berita.”
Sebuah Sindiran yang Menusuk
Kisah Bagong hanyalah satu dari jutaan kisah rakyat kecil.
Anak-anak yang berangkat sekolah dengan semangat, sementara orang tuanya jungkir balik menyembunyikan rasa malu, lelah, dan utang.
Kita sering kali berhasil menyekolahkan anak-anak kita…
Di sekolah terbaik, dengan seragam terbaik, bahkan les tambahan dan ekstra kurikuler.
Tapi kita lupa mengajarkan satu hal: menjadi manusia yang benar.
Bukan sekadar nilai rapor, tapi nilai hidup.
Bukan sekadar ranking, tapi rasa hormat.
Bukan sekadar pinter debat, tapi bisa bedain mana jujur mana licik.
Penutup ala Gareng dan Petruk:
Jadi begini, Sobat GarengPetruk…
Bagong boleh saja belum tahu apa itu inflasi, defisit, atau rasio utang terhadap PDB.
Tapi dia tahu rasanya lapar. Dia tahu rasanya senang cuma gara-gara telur ceplok dan mie goreng.
Dan di situlah letak persoalannya.
Kita kadang terlalu sibuk mengejar ranking, gelar, sertifikat, bahkan akreditasi sampai K13 diganti K-meriang…
Tapi kita lupa mengajari anak kita tentang kejujuran, kesederhanaan, dan jadi manusia yang tidak menyakiti manusia lain.
Kata Bapak Bagong:
“Sekolah itu penting. Tapi jangan cuma jadi pintar. Jadilah benar.”
Karena apa gunanya pinter, kalau akhirnya malah pinter ngebohongin rakyat?
Apa gunanya ranking satu, kalau lulus malah jadi nomor satu di daftar tersangka?
Salam dari Gareng dan Petruk,
Dua dalang tanpa panggung, yang setia mengangkat suara rakyat meski cuma lewat kata-kata dan canda tawa.
Kalau ketawa bisa bikin lupa lapar, maka semoga tulisan ini bisa bikin Anda lupa sebentar…
…bahwa harga telur lagi naik lagi.
#SalamDariGarengPetruk
Lucu? Iya.
Ngakak? Mungkin.
Tapi nyentilnya kayak sandal jepit kena paku.
















