Gareng Petruk – Sinjai, Sulawesi Selatan, Bumi Panrita Kitta
Di tengah gempuran konten viral, reels joget TikTok, dan konten unboxing amplop lebaran, sebuah kabar menggembirakan datang dari ujung selatan Sulawesi: Bupati Sinjai, Dra. Hj. Ratnawati Arif, menerima kunjungan para tokoh adat dari seluruh penjuru nusantara dalam tajuk Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), Kamis (3/7/2025).
Bukan kunjungan biasa, ini semacam reuni agung para pewaris budaya, yang tak hanya bawa tongkat bertuah dan pin kebesaran, tapi juga pesan penting:“Adat jangan cuma jadi kostum karnaval, tapi jadi fondasi peradaban.”
Para Raja Turun Gunung (Tanpa Kuda, Tapi Penuh Wibawa)
Rombongan FSKN yang hadir bukan kaleng-kaleng. Ada Ketua Umum FSKN Brigjen Pol (Purn) Dr. A.A. Mapparessa, yang juga Karaeng Turikale VIII dari Maros, Yang Mulia Raja Tayan Pakunegara Gusti Yusri dan Permaisuri, Sekjen FSKN YM Firman Mudafarsyah dari Kesultanan Ternate, serta YM Andi Abdullah Bau Massepe dari Kedatuan Supa.
Mereka tidak datang membawa pasukan atau alat musik kerajaan. Mereka datang membawa pesan damai, budaya, dan pin tanda kehormatan yang disematkan ke Bupati Sinjai, sebagai simbol “pengayom masyarakat”.
Ratna dan Keraton: Pertemuan Dua Simbol Amanah
Bupati Ratnawati Arif—perempuan pertama yang memimpin Sinjai—menyambut para tamu bukan cuma dengan tangan terbuka, tapi juga hati terbuka. Dalam dunia birokrasi yang kadang penuh formalitas dan pidato basa-basi, kehangatan macam ini adalah oase spiritual (tanpa embel-embel pencitraan digital).
Ketum FSKN menyampaikan,
“Kami hadir untuk memperkenalkan FSKN sebagai wadah masyarakat adat, agar bisa menjadi mitra strategis pemerintah pusat dan daerah.”
Gareng Petruk pun manggut-manggut sambil nyeruput kopi, karena:
“Kalau keraton bisa jadi mitra strategis, setidaknya bisa bantu jaga budaya, bukan cuma jaga proyek.”
Adat Jangan Cuma Untuk Wisata, Tapi Untuk Wibawa Bangsa
Kunjungan ini bukan sekadar agenda ceremonial bersalaman sambil foto bareng. Ini adalah pesan simbolik bahwa adat dan tradisi bukan hanya untuk turis, tapi untuk masa depan bangsa.
Ketum FSKN juga mengajak semua pihak untuk terus menjaga warisan leluhur.
“Sinjai ini luar biasa. Adatnya masih kuat. Ini kekayaan, bukan penghambat pembangunan,” ujarnya, sambil mengusap pin emas tanda kehormatan.
Dari Rumah Jabatan Menuju Rumah Budaya Bersama
Hadir pula dalam pertemuan ini tokoh-tokoh lokal seperti Kapolres Sinjai AKBP Harry Azhar, Anggota DPRD Andi Rusmiati, dan Staf Ahli Bupati Andi Mandasini Saleh. Semuanya menyambut dengan sumringah, seolah berkata:
“Kita bukan hanya bangga pada sejarah, tapi siap menjadikannya inspirasi.”
Gareng Petruk Menyimpulkan (Sambil Bercanda Tapi Serius):
Daripada bikin rapat yang isinya cuma nunggu snack box, lebih baik bikin pertemuan yang isinya menyatukan nilai-nilai luhur bangsa.
Daripada nari adat cuma saat pembukaan acara BUMN, lebih baik adat dijadikan dasar moral pembangunan negeri.
Karena negeri yang kehilangan akar budayanya, akan mudah tumbang saat angin politik bertiup dari segala arah.
Redaksi Harian Nasional Gareng Petruk
Edisi Keraton Bertandang, Budaya Terbilang
Menulis bukan cuma untuk mencatat sejarah, tapi untuk mengingatkan arah.
Tertawa boleh, tapi lupa adat? Jangan!














