Di pojok langit yang sedikit bocor, tepat di sebelah kanan surga level RT, Gareng duduk bersila sambil ngopi pahit tanpa gula. Petruk ngeloyor datang, bawa buku tebal berjudul “Filsafat Negara Dalam Secangkir Teh Kampung.”
“Truk, nek keadilan sosial itu beneran ada, kenapa rakyat kecil mesti rebutan bantuan sembako, sementara konglomerat rebutan diskon pajak?”
Gareng ngelus dada, bukan karena asma, tapi karena sesak batin melihat rakyat disuruh ‘tahan sebentar lagi’ sejak zaman Proklamasi.
Sufistik di Tengah Sampah Sosial
Petruk menyaut sambil membolak-balik kitab dan sesekali menyisip teh manis (yang cuma manis di iklan, karena di gelasnya, semut pun minggat).
“Reng, para sufi bilang, dunia ini cuma persinggahan. Tapi kalo di persinggahan aja udah disuruh bayar mahal, terus kapan kita istirahat?”
Di tengah obrolan, turunlah seorang wali tua dari langit ke-9, bawa tongkat dari kayu kesabaran dan baju dari kain ketulusan. Wali itu bilang:
“Keadilan sosial, bukan sekadar pasal di konstitusi. Ia adalah napas kasih dalam sistem yang waras. Tapi sayang, napas itu kini megap-megap, disuruh berenang di laut yang penuh birokrasi dan rente.”
Akademik Tapi Ngakak
Gareng, yang merasa jadi sarjana jalanan cumlaude dari Universitas Kehidupan, nyengir sambil nanya:
“Jadi gimana, Pak Wali, biar keadilan itu nggak cuma jadi jargon di baliho caleg?”
Sang wali jawab dengan logika akademik bercampur hikmah:
1. Keadilan sosial itu bukan distribusi mie instan, tapi distribusi peluang.
Bukan memberi ikan terus, tapi biar semua punya kail—dan sungai yang nggak dikapling pengusaha tambang.
2. Negara semestinya bukan pabrik janji, tapi rumah bersama.
Di mana rakyat kecil bisa tidur tanpa mimpi buruk digusur.
3. Ekonomi tumbuh, tapi hati nurani jangan tumbang.
Sebab statistik pertumbuhan tak bisa menghapus air mata ibu yang kehilangan rumah demi proyek mercusuar.
Petruk VS Malaikat Audit
Tiba-tiba datang malaikat berseragam rapi, bawa buku audit keadilan. Ia membaca:
“Pajak orang kecil langsung dipotong. Pajak orang kaya? Duluuuar biasa… panjang prosesnya, bisa dinego, bisa dicicil, bisa disayang.”
Petruk langsung nyaut:
“Malaikat, coba cek neraca moral bangsa ini. Di mana katanya Pancasila, tapi sila ke-lima cuma dibaca pas lomba pidato.”
Refleksi Puitis: Negeri dalam Cermin Sufi
Negeri ini gemerlap, tapi gelap.
Cahaya hanya jatuh di menara kekuasaan, bukan di gang-gang harapan.
Keadilan seharusnya tak memilih dompet—ia buta, tapi jangan dibutakan.
Rakyat kecil tak butuh kasihan, mereka butuh kebijakan.
Bukan belas kasihan yang diliput kamera, tapi sistem yang berpihak tanpa perlu sorotan.
Keadilan Sosial, Jangan Cuma Jadi Doa Pembuka Upacara
Gareng berdiri, menatap langit, lalu nyeletuk:
“Keadilan sosial itu jangan cuma muncul pas nyanyi Indonesia Raya. Harusnya dia hadir di meja makan, di warung, di sawah, di puskesmas, di sekolah, di setiap keputusan.”
Petruk pun mengangguk:
“Kalau keadilan sosial cuma buat yang punya akses, ya namanya bukan keadilan. Itu kartu member elite.”
Dan di ujung senja, Gareng dan Petruk pun menulis di dinding warung:
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia — bukan sekadar mimpi, tapi kerja kolektif dengan hati.”
Aamiin ya rakyat jelata…
Redaksi Gareng Petruk
Sirkus realita, ditertawakan agar tak bikin putus asa.
Sambil ngakak, mari waras bareng.
















