KLATEN – Ada kabar anyar dari dunia per-perangkat-an! Bukan, ini bukan launching gadget baru atau diskon di warung kopi desa. Ini soal Musyawarah Kabupaten ke-III Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Klaten yang digelar Sabtu, 31 Mei 2025, di Aula Balai Desa Sumberejo, Klaten Selatan. Acaranya meriah, penuh semangat, dan seperti biasa: penuh harapan… walau kadang harapannya masih dikredit lima tahun ke depan.
Dan… Jreeeng! Sri Mulyo, perangkat desa dari Bonyokan, resmi dinobatkan jadi Ketua PPDI Klaten periode 2025-2030. Kita doakan lima tahun ke depan beliau mulyo beneran, bukan hanya nama.
Pemilihan Gaya Demokrasi: Bukan Voting-votingan Gak Jelas
Perwakilan dari 26 kecamatan ngumpul, ndedonga, dan milih. Prosesnya demokratis, nggak pake amplop-amplopan misterius atau kartu sakti. Subana, ketua panitia pemilihan yang tampak lebih tegang dari calon ketua, menyatakan harapannya: “Semoga kepengurusan baru ini bisa bawa perubahan nasib, karena sampai sekarang perangkat desa itu statusnya masih… ya gitu deh, nggantung kayak jemuran pas mendung.”
Wah, ndang klirne, Pak! Masa yang kerja dari pagi sampe petang, bahkan kadang ngurusin hajatan tetangga, malah statusnya kalah sama karyawan magang?
Sri Mulyo: Nama Mewah, Tanggung Jawab Megah
Dalam pidato sambutannya yang penuh senyum namun mengandung beban sekargo truk pasir, Sri Mulyo bilang, “Amanat ini akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya.” Kita percaya, Pak. Tapi jangan lupa, rakyat desa sudah sering banget dikasih “janji manis” sampai gula darah naik.
Beliau juga bertekad sinergi dengan Bupati dan Wakil Bupati. Ya semoga sinerginya bukan hanya ngopi bareng dan foto bareng, tapi juga kerja bareng dan berjuang bareng. Soalnya perangkat desa ini bukan sekadar “tangan kanan pemerintah”, tapi juga “kaki kiri rakyat”—jalan terus meski nggak pernah dipijat.
Sindiran Penuh Cinta: Perangkat Tapi Tak Terangkat
Sampai sekarang, sekitar 3200 perangkat desa se-Klaten belum jelas nasibnya. Mereka bukan ASN, bukan honorer, apalagi PNS. Statusnya mirip mantan gebetan: pernah dekat tapi tak pernah diresmikan. Sudah waktunya negara ini ngasih kepastian, bukan PHP berjilid-jilid.
Gareng nyeletuk, “Iki lho, negara kok pelit banget ngasih status ke perangkat desa. Tapi giliran bikin regulasi ribet, lha kok cepet banget!”
Petruk nambahi, “Perangkat desa itu kayak soto tanpa daging: kerjaannya banyak, tapi isinya cuma angin.”
Harapan Rakyat: PPDI Ora Gampang Lali
Kini harapan rakyat desa bertumpu pada Sri Mulyo dan jajaran barunya. Jangan sampai PPDI cuma jadi organisasi yang rajin rapat tapi lupa ngadvokasi. Jangan cuma bikin seminar tapi lupa realita. Dan jangan cuma deket kekuasaan, tapi jauh dari kebutuhan rakyat.
Kami, Gareng dan Petruk, akan tetap ngawasi sambil ndomblong di gardu pos ronda. Kalau perlu, kita siap turun langsung ngadain Muskab Rakyat, dengan kopi, gorengan, dan satu pertanyaan pamungkas: “Kapan perangkat desa jadi perangkat yang beneran dianggap?”
Salam Ngabdi, Salam Mulyo!
—
Mau dimuat di Harian Nasional Gareng Petruk halaman utama atau disiapkan versi cetaknya juga, Mas?















