KOTA BATU – Di tengah zaman yang serba scroll up dan scroll down, ada satu tokoh yang justru ngajak scroll ke dalam. Beliau adalah Budi Purnama, S.Psi, Ketua GM FKPPI Kota Batu, yang dengan khidmat dan gaya adem ayem, ngajak generasi muda melek Pancasila bukan cuma pas upacara bendera atau hafalan lomba 17-an.
Menurut Budi, Pancasila itu bukan kayak tanaman hias yang cuma bagus pas difoto, tapi kudu dirawat, dipupuk, dan dijalankan—walau gak bisa di-upload ke Instagram Story.
Pancasila Bukan Stiker di Pagar Kantor
“Pancasila itu hidup dan bernapas,” ujar Budi. Wah, kalau bernapasnya ngos-ngosan, berarti sudah lama gak diajak lari bareng rakyat!
Budi menjelaskan bahwa Pancasila itu bukan cuma piagam di dinding kantor kelurahan yang dilap setahun sekali pas inspeksi, tapi kompas moral yang harusnya ada di dompet (biar gak ilang arah), di hati (biar gak keras), dan di aplikasi hidup sehari-hari (biar gak error terus).

Gareng nyeletuk, “Wah, cocok tuh, daripada kompas moralnya anak muda sekarang cuma Google Maps!”
Dari Warung Kopi ke Koperasi: Pancasila yang Bekerja
GM FKPPI Kota Batu ini bukan cuma modal jargon, lho. Mereka turun gunung kayak Pandawa, bantu UMKM, koperasi, dan ekonomi kerakyatan yang sering dipinggirkan karena dianggap nggak startupable. Mereka ngajak petani, pedagang kecil, bahkan anak muda nganggur (tapi kreatif), buat mandiri tanpa perlu nunggu endorsement dari pemerintah.
Petruk nambahin, “Ini baru hebat! Pancasila bukan dijual kiloan di seminar, tapi dijalankan kayak program warteg: murah, merakyat, dan kenyang!”
Agama dan Nasionalisme: Bukan Dua Jurusan Berbeda
GM FKPPI Kota Batu juga meyakini bahwa nilai-nilai agama dalam Pancasila bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk disatukan. Budi bilang, agama itu sumber moral, bukan sumber debat tiap hari di medsos. Kalau masih ada yang ribut soal perbedaan, berarti belum sempat ngopi bareng sambil ngobrolin sila ke-3.
Membumikan Pancasila di Era Digital: Jangan Cuma Jadi Caption
Budi menegaskan, generasi muda sekarang harus bisa ngubah Pancasila dari sekadar konten edukatif jadi konten aksi nyata. Jangan Pancasila cuma dijadiin quote di TikTok pas Hari Kesaktian Pancasila, tapi dilupakan pas rebutan diskon flash sale.
“Dengan Pancasila sebagai kompas moral, kita bisa bersatu dan memajukan bangsa,” kata Budi. Kata-katanya mantap, tapi Gareng bilang, “Awas lho Pak, jangan sampe Pancasila jadi kayak slogan SPBU: penuh semangat, tapi isinya tetep premium campur air!”
Catatan Akhir: Budi Bukan Sekadar Nama, Tapi Budi Pekerti Pancasila
Di tengah krisis identitas, krisis tatanan, bahkan krisis sinyal, GM FKPPI Kota Batu hadir seperti sinar Wi-Fi di desa tertinggal: pelan tapi pasti, nyambung juga akhirnya.
Kami, Gareng dan Petruk, cuma bisa nitip pesan: Pancasila itu bukan milik masa lalu, tapi panduan masa depan. Jangan cuma jadi stempel di amplop kebijakan, tapi jadi nyawa dalam setiap kebijakan.
Salam Merdeka. Salam Lucu tapi Serius. Salam dari Batu, tempat Pancasila gak cuma dihafal, tapi dihidupi.
















