Dalam hiruk-pikuk menjelang Pilkada Bombana 2024, pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor urut 1, Burhanuddin dan Ahmad Yani, tampaknya justru memanfaatkan serangan fitnah untuk memperkuat dukungan mereka. Ketua Umum Pasukan 08, Arfian, menyoroti adanya anomali serangan cyberbullying dan dugaan pembegalan karakter yang dialamatkan kepada pasangan ini.
Fitnah Berbuah Simpati
Arfian mengungkapkan bahwa serangan ini diduga berasal dari tim pendukung paslon lain, yang menggunakan akun anonim seperti “Bilal Kabaena” untuk menyebar narasi negatif. Temuan tersebut akan segera dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Bombana sebagai bentuk komitmen terhadap pemilu yang bersih.
“Politik semestinya menjadi ajang menyampaikan visi dan misi, bukan arena untuk saling menjatuhkan. Seni tertinggi dalam berpolitik adalah meyakinkan rakyat tanpa menyakiti,” ujar Arfian dengan penuh keprihatinan.
Momentum Penentuan Masa Depan Bombana
Arfian juga mengajak masyarakat untuk cerdas dalam memilih. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan ketakutan lawan politik terhadap potensi kemenangan Burhanuddin dan Ahmad Yani. “Semakin dihujat, semakin banyak fitnah yang dialamatkan, semakin terlihat siapa yang benar-benar diperhitungkan,” tambahnya.
Dia menegaskan bahwa pemilu kali ini bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi menentukan arah pembangunan Bombana ke depan. “Saatnya memilih pemimpin yang benar-benar berintegritas, bukan yang menghalalkan segala cara untuk menang.”

Menyikapi Politik dengan Santun
Selain itu, Arfian mengingatkan bahwa politik tidak seharusnya menjadi alat penghancur karakter, melainkan sarana untuk membangun kepercayaan dan meyakinkan masyarakat. Fitnah, ujar Arfian, hanya akan memperkuat simpati terhadap pasangan yang difitnah.
“Pemimpin yang layak dipilih adalah mereka yang bisa merangkul, bukan memukul,” katanya menutup pernyataan.

Kesimpulan
Situasi ini menggambarkan dinamika politik Bombana yang sarat intrik, namun sekaligus memberi pelajaran tentang pentingnya pemilu yang bermartabat. Masyarakat Bombana kini dihadapkan pada pilihan: memilih berdasarkan fakta dan visi atau tergiring oleh kampanye negatif.
Pemilu bukan sekadar pertarungan kandidat, melainkan ujian bagi rakyat untuk menunjukkan kedewasaan demokrasi. Pilihan kita menentukan masa depan Bombana!















