MALANG – Kalau ada yang bilang polisi cuma jago tilang di tikungan dan selfie di lampu merah, fix dia belum liat aksi bareng Polres Malang saat Kamis Kenaikan Isa Almasih (29/5/2025) kemarin. Bukan cuma nonton sinetron “Dunia Terbalik”, para aparat ini justru tampil terbalik: bukan ditakuti, tapi bikin adem dan damai di 67 gereja se-Kabupaten Malang.
Ya, benar saudara-saudara sebangsa dan sepemantauan medsos, sebanyak 67 titik ibadah di Kabupaten Malang dijaga ketat oleh aparat Polres Malang dan Polsek setempat. Bukan karena ada demo harga telur naik atau kerusuhan rebutan kursi legislatif, tapi demi memastikan perayaan Kenaikan Isa Almasih berjalan aman, tentram, dan damai seperti slogan bendera ormas waktu apel akbar.
AKP Bambang Subinajar, sang Kasihumas yang lebih tenang dari sinyal WiFi di lereng Bromo, menyampaikan bahwa pengamanan ini adalah bukti nyata komitmen Polri dalam menjamin kebebasan beragama. “Kami kerahkan personel di seluruh titik pelaksanaan ibadah, baik secara terbuka maupun tertutup. Seluruh kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif,” ujar Bambang sambil ngopi (kayaknya).
Pengamanan tidak hanya formalitas, lho. Tim patroli juga disebar ke lokasi rawan kriminalitas dan pusat keramaian. Ya maklum, ini kan libur panjang, dan seperti biasa, bukan cuma umat berdoa yang gerak, tapi juga dompet para wisatawan yang mulai megap-megap.
> “Kami tingkatkan patroli secara mobile maupun stasioner, terutama di area publik seperti pusat perbelanjaan, jalur wisata, terminal, dan titik keramaian lainnya,” kata AKP Bambang. Pokoknya, aparat lebih siaga dari admin grup WhatsApp keluarga saat ada yang kirim hoaks.
Gereja aman, pusat perbelanjaan dijaga, terminal diawasi. Artinya, iblis libur. Preman minggir. Copet cuti. Makhluk-makhluk pengganggu ketertiban pun ditakut-takuti oleh aura jaket polisi yang lebih dingin dari AC masjid.
Toleransi Dingin-Dingin Adem
Hebatnya, pengamanan ini bukan cuma soal seragam dan rotan. Tapi tentang menjaga semangat toleransi yang mulai jarang ditemui di kolom komentar media sosial. Kalau ada yang masih nyinyir soal beda agama, mungkin perlu diingatkan: ketika umat Kristen beribadah, yang jaga malah umat yang bukan Kristen. Karena di bumi Nusantara, perbedaan bukan alasan untuk main pukul; cukup jadi bahan stand up comedy saja.
Polisi Bukan Cuma Pengamanan, Tapi Pengayoman
“Kalau ada yang mencurigakan, lapor saja ke call center 110,” kata Bambang lagi, kali ini sambil cek CCTV atau mungkin TikTok. Tapi serius, ini bukan sekadar kata-kata. Polres Malang membuka semua jalur aduan, dari telepon resmi sampai mungkin, kalau nekat, lewat DM IG Satlantas.
—
Gareng Petruk Bicara:
Wahai rakyat Malang dan sekitarnya, mari kita saling jaga. Biar polisi jaga gereja, kita jaga akhlak. Biar aparat patroli ke mall, kita patroli ke dalam hati. Karena sering kali, yang paling rawan bukan gereja atau pasar, tapi emosi kita sendiri yang mudah terbakar—apalagi kalau debat agama disambung bahas capres.
Ingat, dalam Kenaikan Isa Almasih, kita diajak naik. Naik derajat kemanusiaan. Naik kesadaran bahwa beda agama bukan soal menang-kalah, tapi saling melengkapi seperti nasi dan tempe, sate dan lontong, YouTube dan skip ad.
Selamat merayakan Kenaikan Isa Almasih. Damai untuk semua. Dan untuk polisi, lanjutkan pengayoman—asal jangan razia pas lagi goreng tempe, plis.















