Ungasan, Badung – Bali. Ada kabar duka dari Pulau Dewata, tapi yang terdengar justru dentuman komentar pahit, bukan suara gamelan belasungkawa. Dua pemuda asal Sumba, saudara kita sebangsa, sebahasa (walau logat beda dikit), meninggal dunia dalam kecelakaan tragis. Tapi bukannya dapat pelukan maya atau doa manis, eh malah disuguhi komentar yang bikin almarhum bisa salto di alam baka!

“Paling-paling mabuk… akhirnya orang Bali yang mecaru,” kata akun yang (katanya) punya nama Widnyana. Waduh, ini komentar atau satir iblis?
“Setidaknya mengurangi limbah yg berlebihan,” timpal si Wira, yang mungkin pikir dunia ini sedang lomba siapa paling kejam.
Dan yang ini bikin alis nyungsep, “Hi…hi…hi… Jadi Tum al**,” dari Yus yang kayaknya lupa dia juga dari ibu yang berjuang melahirkannya.
Halah, rek! Opo tumon? Nyawa manusia kok dijadikan bahan cengengesan. Gareng Petruk aja yang suka lucu-lucuan tahu kapan saatnya becanda, kapan saatnya nunduk dan elus dada. Lha ini? Dua anak bangsa pulang ke rumah Tuhan, tapi yang ramai malah jadi lomba olok-olok.
Dimana letak hati nurani yang katanya ‘ramah tamah’? Apa benar Bali cuma indah buat turis dan kehilangan empati buat saudara sendiri? Atau barangkali, rasa kemanusiaan kita udah digadaikan demi like dan komen sensasional?
Lho, rek, ojo lali.
Mati itu bukan mainan.
Duka itu bukan konten lucu-lucuan.
Rasisme itu bukan pendapat, tapi penyakit.

Petruk mau tanya:
Apa gunanya kita nyanyi “Bhineka Tunggal Ika” tiap hari kalau akhirnya yang beda suku dianggap limbah?
Apa bedanya kita sama tong kosong kalau suara kita penuh benci, bukan empati?
Polisi, aparat, mari rapat! Ini bukan sekadar kasus kecelakaan, ini soal harga diri dan keadilan. Kalau akun-akun sadis itu dibiarkan berkeliaran tanpa teguran, jangan salahkan generasi muda tumbuh jadi komentator maut.
Netijen budiman (dan budimun), yuk eling! Hari ini mereka, besok bisa kita. Duka bukan panggung stand-up comedy. Jangan sampai nama Bali yang harum jadi anyir karena mulut netizen yang busuk. Nusa ini indah, jangan kotori dengan benci!
Salam dari Petruk,
Yang walau cuma wayang, tetap tahu caranya menangis kalau saudara jatuh.
—
#TragediUngasan
#KeadilanUntukWargaSumba
#GarengPetrukNgomong
#HatiLebihBerhargaDariLike
#StopRasisme
















