Batu, 19 Mei 2025 –
Petruk sedang duduk bersila di emperan warung kopi, mendengarkan podcast “Ngaji Tasawuf Bersama Ustadz Sufi Gaul”. Gareng lewat sambil bawa jajan pasar dan berkata, “Truk, kowe ki ngaji opo ngopi, kok rak jelas bedane zikir karo slurp kopi?”
Seketika tawa meledak dari para pengunjung. Tapi jangan salah, di balik guyonan itu, ada keresahan. Yakni, soal makin riuhnya dunia yang katanya modern tapi bikin hati makin kosong, hidup makin cepet tapi makna makin sempit.
“Zaman saiki, Truk,” kata Gareng sambil duduk, “manungsa akeh sing kasengsem karo spiritualitas, tapi malah kepleset ning motivator ngaku nabi, atau guru yoga yang ngaku bisa buka cakra lewat TikTok.”
Ngaji Ala New Age: Banyak Lilin, Minim Dalil
Di tengah hutan rimba kehidupan urban, banyak manusia tersesat bukan karena nggak ada jalan, tapi karena GPS hidupnya sudah disetel ke “New Age Mode”: meditasi sambil menyembah semesta, nge-vape aroma kemenyan, dan baca mantra sambil update story.
Gerakan spiritualitas baru ini—kaya New Age, Pemikiran Baru, dan sejenisnya—seringkali lebih mirip warung makan all-you-can-pray: semua boleh diambil, asal tidak terlalu dalam. Ada yang ngaku bertapa demi “pencerahan”, padahal cuma lagi nyari sinyal WiFi di puncak gunung.
“Lha ya piye, wong shalat tahajud dianggap kuno, tapi nonton tutorial ‘menyatu dengan semesta’ dianggap estetik,” celetuk Petruk sambil menyeruput kopi.
Sufi di Era Digital: Zikir via Zoom, Ma’rifat lewat Meetup
Untungnya, sufisme sebagai warisan spiritual Islam tak ikut latah jadi tren Instagram. Ia tetap hadir—senyap namun dalam. Sufi bukan sekadar orang jenggotan dengan tasbih, tapi orang yang ngerti bahwa hidup itu bukan tentang punya banyak, tapi merasa cukup. Bukan siapa yang paling keras bicara agama, tapi siapa yang paling lembut hatinya dalam mengasihi.
Coba lihat sejarah: para sufi dulu jadi garda depan melawan penjajah. Mereka bukan cuma zikir, tapi juga bergerak. Ada yang bikin koperasi, ada yang turun ke sawah, ada yang ngasuh yatim. Tarekat bukan sekadar ritual mistik, tapi lumbung solusi etis, ekologis, dan sosial.
Di Jawa Barat misalnya, ada pesantren yang ngajarin santri bukan cuma kitab, tapi juga cara bikin pupuk organik dan ngatur koperasi tani. Nah, ini baru tarekat yang jejaknya nyata, bukan yang cuma muncul di feed medsos tiap Kamis malam.
Kritik ala Gareng: Antara Spiritualitas dan Spekulasi
Tapi, Gareng tak tinggal diam. Ia gelisah. “Kene lho Truk, saiki akeh wong ngaku spiritual, tapi senengnya cuma ngomong energi positif, tapi nyebar hoax tiap jam. Padahal, masang batu akik di jidat ora bakal ngurangi dosa fitnah!”
Ia menyindir juga kaum elite yang mendadak spiritual tiap musim pemilu. “Sowan kyai, selfie bareng, upload caption ‘menuju kemenangan batin’, padahal sing dikejar kursi kekuasaan, bukan ridha Tuhan.”
Penutup ala Petruk: Sufi, Satu Kata, Banyak Makna
Petruk menutup obrolan dengan bijak: “Sufi itu bukan gelar, tapi cara jalan. Bukan kostum, tapi laku. Bukan status medsos, tapi status hati. Di tengah dunia yang gaduh dan gila, kita butuh lebih banyak orang yang berani diam. Bukan karena nggak punya jawaban, tapi karena sedang mendengarkan suara Tuhan di dalam dada.”
Dan malam pun tiba, Gareng dan Petruk masih duduk di emperan, ditemani kopi, langit penuh bintang, dan zikir lirih dari warung sebelah. Bukan untuk jadi suci, tapi sekadar ingin jadi manusia yang sedikit lebih waras di zaman yang gila ini.
Salam dari Batu, tempat para sufi modern belajar sabar lewat sinyal HP yang suka hilang.
– Eko Windarto (dan dua dalang jalanan: Gareng & Petruk)















