Jember – Kamis pagi 24 April 2025, matahari bahkan belum sempat garuk-garuk awan, tapi para pejuang masa kini dari Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHC BPK 45) Kabupaten Jember sudah tampil gagah dan bersemangat. Bukan buat senam atau rebutan minyak goreng diskonan, tapi buat ziarah rombongan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Patrang. Momen ini adalah bagian dari perayaan HUT BPK 45 yang ke-65 tahun. Wah, 65 tahun itu bukan usia muda, tapi semangatnya masih kayak anak pramuka!
Tepat jam 07.00 WIB, upacara dimulai. Dipimpin oleh Drs. H. M. Winarto Porwadi, MPd., dengan Komandan Upacara Hari Subagio yang berdiri tegak kayak bendera belum dikerek. Ada pula Sohehudin, sang pembaca doa merangkap pembawa acara, multitasking lebih hebat dari aplikasi ojek online!
Karangan bunga diserahkan ke tugu TMP, tabur bunga dilakukan di pusara para pahlawan, termasuk makam Dr. Soebandi—sosok yang namanya kini diabadikan jadi SMK, bukan warung kopi. Setelah itu, tanda tangan di buku tamu ziarah: tradisi lama yang sakral, biar generasi sekarang tahu, menulis bukan cuma buat update status galau.
Yang Hadir? Wah, Komplit Seperti Rapat RW!
Pengurus DHC BPK 45, Pemuda Panca Marga, Bakorwil, LVRI, PPAD, PPPolri, Pepabri, PWRI, HIPAKAD, bahkan siswa-siswi SMK Dr. Soebandi. Semua ikut, dari veteran sampai yang baru hafal lagu Indonesia Raya. Ini bukan hanya ziarah, tapi reuni lintas generasi!
Kalau kata Petruk, “Ini acara yang bikin bulu kuduk hormat.”
Setelah TMP, lanjut ke Gedung Juang 45 buat acara puncak: tasyakuran & halal bihalal. Tempat yang pas buat nostalgia sekaligus teguran halus ke generasi muda yang lebih hapal nama-nama influencer daripada nama pahlawan.
Gareng Bergumam Serius:
“Kalau dulu pahlawan berjuang angkat senjata demi bangsa, sekarang banyak yang berjuang angkat tangan… minta jatah proyek.”
BPK 45 hadir sebagai pengingat, bahwa kemerdekaan bukan sekadar sejarah, tapi warisan yang harus dijaga.
Dan ziarah ini bukan sekadar ritual bunga-bunga, tapi tamparan lembut buat kita semua:
Apakah kita hidup seperti yang diperjuangkan para pahlawan, atau cuma numpang hidup dari perjuangan mereka?
Sindiran Lembut dari Petruk:
Kalau makam pahlawan ramai dikunjungi pas acara resmi doang, tapi gedung karaoke dan mall penuh tiap weekend, itu pertanda: kita harus lebih sering ziarah hati. Ingat nilai, bukan cuma nilai tukar.
Akhir kata dari Gareng dan Petruk:
Selamat ulang tahun ke-65 buat DHC BPK 45 Jember. Terus jaga semangat kejuangan, dan terus tegur dengan lembut, karena kadang yang lupa bukan rakyat, tapi pemimpinnya.
Salam hormat setinggi langit, dari dua wong ndeso yang masih percaya bahwa cinta tanah air tak harus pakai podium dan mikrofon, cukup dengan tindakan dan kenangan.















