Malam masih lengket di langit. Seperempat jam sebelum imsak, di sudut kampung yang lampunya kuning temaram, duduklah tiga manusia: Gareng, Petruk, dan Pak Ustadz. Sepiring nasi uduk mengepul, segelas teh manis menunggu diseruput. Tapi, seperti biasa, mulut lebih dulu bekerja sebelum sendok bergerak.
Gareng Bingung, Petruk Santai, Pak Ustadz Senyum-Senyum
Gareng: “Truk, aku bingung. Sahur itu sunnah, tapi kalau nggak sahur tetap bisa puasa. Jadi kalau aku nggak sahur, aku tetap benar atau jadi kurang benar?”
Petruk: “Kamu itu orangnya terlalu serius, Ndhul. Tuhan nggak bakal marah kalau kamu nggak sahur. Yang penting puasanya, kan?”
Pak Ustadz tersenyum, mengelus jenggot.
Pak Ustadz: “Nak Gareng, sahur itu bukan sekadar makan. Sahur itu simbol kesiapan. Yang bangun sahur, dia siap menahan lapar. Yang bangun sahur, dia siap menghadapi hari dengan tenang. Tapi kalau kamu sahur tapi tetap marah-marah sepanjang hari, lalu apa maknanya?”
Gareng mengangguk-angguk, lalu menyendok nasi ke mulutnya.
Tuhan Itu Dekat, Tapi Dimana?
Petruk: “Lha terus, Pak Ustadz, kalau kita sahur tapi nggak mikirin Tuhan, sahur kita tetap berpahala?”
Pak Ustadz: “Nak Petruk, kalau kamu makan sahur lalu kamu bersyukur, itu sudah dekat dengan Tuhan. Tapi kalau kamu makan sahur sambil sibuk main HP, chat sana-sini, lihat-lihat diskon online, lalu lupa bersyukur, kamu lebih dekat dengan promo daripada Tuhan.”
Gareng: “Jadi Tuhan itu jauh atau dekat, Pak Ustadz?”
Pak Ustadz tersenyum lagi. “Tuhan itu lebih dekat dari urat lehermu, tapi kalau kamu sibuk cari di tempat jauh, ya nggak bakal ketemu. Dia ada di nafasmu, di detak jantungmu, di gigimu yang mengunyah nasi uduk itu. Tapi kalau hatimu sibuk, maka Tuhan seperti jauh.”
Petruk: “Jadi, kalau kita lapar pas puasa, itu Tuhan jauh atau dekat?”
Pak Ustadz: “Kalau kamu merasakan laparmu sebagai ujian, Tuhan terasa jauh. Tapi kalau kamu merasakan laparmu sebagai pengingat bahwa banyak orang di luar sana juga lapar setiap hari, maka Tuhan sedang mengetuk hatimu.”
Gareng dan Petruk terdiam.
Akhirnya Sahur atau Tidak?
Gareng: “Pak Ustadz, kalau misalnya aku nggak sahur karena ketiduran, itu berarti aku kurang bersiap atau itu takdir?”
Pak Ustadz tertawa kecil. “Itu takdir yang dipilih sendiri. Kalau kamu tidur cepat dan pasang alarm, lalu tetap ketiduran, itu takdir. Tapi kalau kamu begadang nonton serial sampai subuh, lalu ketiduran, itu keputusanmu sendiri.”
Petruk: “Lha kalau aku bangun sahur tapi malah nggak makan, cuma minum air, itu sahurnya sah atau nggak?”
Pak Ustadz: “Kalau niatmu sahur, meski cuma seteguk air, itu tetap sah. Tapi kalau kamu malah sibuk debat sama Gareng sampai nggak jadi makan, itu mubazir.”
Gareng dan Petruk berpandangan, lalu buru-buru melahap sisa nasi uduk mereka.
Di luar, azan Subuh berkumandang.
Tuhan, sahur, dan pertanyaan-pertanyaan terus berjalan dalam kepala mereka.
Tapi setidaknya, perut mereka siap menahan lapar hari ini.
Pesan Moral:
Tuhan lebih dekat dari yang kita kira. Sahur bukan sekadar makan, tapi persiapan hati. Jangan terlalu sibuk bertanya sampai lupa menikmati hikmahnya. Dan ingat, jangan sibuk debat sampai lupa makan!
















