Di suatu pagi yang mendung, di ujung utara kota santri Situbondo, di Dusun Tanjung Sari Timur, warung kopi berdinding triplek dan beratap seng itu bukan sekadar tempat nyruput robusta kampung. Ia adalah parlemen rakyat, di mana lidah tak bersilat dan pikiran tak pakai mic. Di sana, kritik lahir bukan dari riset bersponsor, tapi dari perut lapar dan dompet tipis.
Warung kopi itu saksi bisu. Saksi saat rakyat bertanya:
> “Kalau harga sembako terus naik, apakah gaji kita juga naik atau hanya naik darah?”
“Kalau berobat harus antre BPJS 3 jam, apakah sakitnya boleh dijadwal dulu?”
“Sekolah mahal, tapi anakku masih bingung titik koma, ini yang salah siapa?”
Warung itu bukan tempat nongkrong anak mager yang nunggu sinyal cinta dari gebetan. Bukan pula tempat eksis ala influencer endorse mie instan. Ini tempat rakyat ngopi sambil mikir hidup, bukan ngopi sambil mikir caption.
Kalau di DPR ada agenda “dengar pendapat”, maka di warung kopi ada “dengar penderitaan”.
Kalau di kantor kementerian ada presentasi power point, maka di sini cukup pakai suara serak dan tangan menunjuk langit, “Lur, sampean ngerti gak, kenapa minyak goreng naik tapi gaji tetap diam seperti mantan yang enggan balikan?”
Dan yang bikin nyesek, suara dari warung kopi ini sering dianggap nyinyiran rakyat kurang kerjaan.
Padahal, di sinilah logika kehidupan berteriak.
> “Kami disuruh hemat, tapi pejabatnya boros!”
“Kami diminta sabar, tapi mereka pamer pencitraan!”
“Kami disuruh jangan iri, tapi tiap hari iri liat anggaran mereka!”
Pemerintah lebih sering mendengar polling di medsos ketimbang curhatan di emperan.
Rakyat disuruh ikut pemilu, tapi habis itu disuruh diam kayak patung kuda di Monas.
> Diam bukan tak tahu, bung… Tapi karena kami tahu terlalu banyak.
Warung kopi tak butuh kamera, tak perlu setting. Di sinilah kejujuran diseduh bersama kopi hitam pahit – pahitnya mirip kenyataan, tapi tetap bikin melek. Karena meski hidup makin getir, kita tetap bertahan. Mau merampok takut penjara, mau minta proyek takut tidak punya saudara.
Lalu datanglah jargon itu:
“Situbondo Naik Kelas”
Tapi rakyat bertanya dengan polos,
> “Naik kelas ke mana, Pak? Yang naik cuma tarif, bukan taraf. Naik cuma bilboard, bukan penghasilan.”

Kritik rakyat bukan bentuk benci. Justru dari sinilah lahir cinta yang tak pernah diundang saat kampanye. Sebab yang mencintai negeri ini adalah mereka yang berani bersuara, bukan mereka yang hanya bisa senyum di foto baliho.
Negara ini tak bisa terus diselamatkan dari ruang rapat dan kertas strategi. Ia butuh telinga yang mau mendengar suara dari bawah – dari bangku warung, dari sendok yang mengaduk kopi, dari keluh lirih ibu-ibu yang bingung pilih beli susu atau bayar listrik.
Karena dari warung kopi itulah revolusi dimulai – bukan pakai senjata, tapi dengan logika dan secuil harapan.
Sampai di sini dulu, lur. Gareng Petruk pamit nyruput kopi dulu.
Kalau kau tak bisa membenahi negara, setidaknya jangan remehkan suara dari meja kayu reyot yang penuh kisah dan rasa.
















