“Naik gunung itu bukan soal kuat, tapi soal niat dan betis yang tak tahu malu.”
—Petuah simbah waktu kami ngajak naik Rinjani, yang langsung muntir balik naik ojek sapi.
—
Dulur-dulur kabeh,
Mari duduk melingkar, secangkir kopi di tangan kanan, gorengan di tangan kiri, dan sisa tagihan cicilan di belakang kepala.
Aku ingin cerita. Cerita tentang Rinjani.
Tentang gunung yang tinggi, tapi justru bikin aku merasa kecil.
Tentang alam yang agung, tapi justru membuatku menyadari betapa sombongnya manusia zaman sekarang.
Yang tiap update di Instagram, caption-nya selalu:
“Menaklukkan Rinjani.”
Eh, leh-aleh! Rinjani ditaklukke? Lah situ Napoleon kah? Atau Thanos?
—
Episode 1: Nafas ngos-ngosan, tapi ego masih ngotot
Perjalanan mendaki Rinjani itu kayak kehidupan: awalnya semangat, tengahnya nyesel, akhirnya pas nyampe atas malah pengen pulang cepet-cepet.
Di tengah pendakian, aku sempat merenung sambil ngunyah mie instan rasa ‘salah jalan hidup’.
Tour Guide ku, Pak Bowo, yang biasanya sok gagah, tiba-tiba diem, ngos-ngosan, matanya melotot seperti baru melihat tagihan listrik kosan.
“Bro, kita udah dekat puncak?” tanyaku.
“Dekat sih, tapi dekat neraka juga,” jawabnya.
Dan di situ aku sadar:
Kita ini sering sombong di bawah, tapi rapuh di atas.
Waktu sinyal kuat, kita jadi jumawa. Tapi pas naik gunung, sinyal hilang, baru nyari Tuhan.
—
Episode 2: Alam yang diam, tapi menegur
Sesampainya di puncak, aku berdiri sambil tiarap (karena kedinginan).
Di situ, bukan cuma angin yang menampar wajahku,
tapi juga rasa malu—karena terlalu sering menepuk dada di dunia yang sementara.
Kata Rumi,
“Gunung bukan untuk ditaklukkan. Tapi untuk menjadi cermin—sejauh mana engkau bisa menaklukkan dirimu sendiri.”
Cermin itu ya Rinjani.
Ia memantulkan semua:
Kesombongan para pendaki yang buang sampah sembarangan,
Selfie sambil nginjek bunga edelweiss,
Ngopi sambil ngerokok dan nyalahin alam karena dingin.
Padahal yang ngebul bukan gunungnya, tapi mulutnya.
—
Episode 3: Tangis yang turun bersama embun
Aku nangis di puncak, lho.
Bukan karena sedih. Tapi karena kedinginan dan lupa bawa jaket bulu angsa, malah bawa jaket mantan.
Tipis. Gak ngelindungi, tapi penuh kenangan.
Tapi ada hikmahnya juga.
Air mata itu jadi simbol.
Bahwa kesombongan manusia sering luntur oleh ketulusan alam.
Gunung itu diam,
tapi ajarannya keras.
Ia tidak marah, tapi ketika ia batuk—lahar bisa turun seperti utang KPR yang menumpuk.
—
Episode 4: Sufi bertopi kupluk
Di puncak itu, aku merasa seperti sufi:
Tak punya apa-apa, hanya tubuh, jiwa, dan perut yang minta jatah.
Dan aku tersenyum.
Karena sadar, hidup itu bukan tentang menjadi yang paling tinggi,
tapi tentang mampu tunduk bahkan saat kita di puncak.
Sebab sejatinya,
semakin tinggi seseorang, semakin keras angin yang harus ia hadapi.
Lah wong cemara aja bisa roboh kalau akarnya gak kuat,
apalagi manusia yang akarnya cuma di followers dan likes.

—
Epilog: Turun dari puncak, turun juga ego
Waktu turun gunung, aku ketemu mbah-mbah pemilik warung tenda.
Ia berkata dengan santai sambil ngaduk kopi:
“Nek mung munggah-munggah, walang kadung wae iso. Tapi sing iso mulih karo sadar awake dewe, kuwi sing sejati.”
(“Kalau cuma naik-naik, belalang pun bisa. Tapi yang bisa pulang dengan kesadaran diri, itu yang sejati.”)
Dan di situ, aku tertunduk.
Bukan karena malu, tapi karena punggungku keseleo gara-gara tas 30 liter isinya cuma kamera dan tongsis.
—
Penutup
Rinjani bukan puncak kesombongan. Ia adalah altar kesadaran.
Tempat kita menaruh ego,
mengganti ambisi dengan dzikir,
dan memandang dunia dengan mata air jiwa, bukan mata pencitraan.
Jadi, dulur…
Lain kali kalau naik gunung, jangan bawa niat menaklukkan.
Tapi bawa hati yang siap ditaklukkan.

Dan jangan lupa… gigi palsu Pak Bowo masih tertinggal di warung tenda Mbok Yem. Kalau nemu, tolong kembalikan.
—
— Gareng Petruk, sang pendaki rasa sufi, rasa nyeri lutut
🗻☕🧳
















