Wonosari – Desa Karangrejek, yang biasanya tenang dengan suara jangkrik dan gemericik air sungai, mendadak ramai penuh gebrakan. Program Bakti Talenta Jasa Raharja atau Beta-JR mendarat di sini, membawa semangat para pegawai muda Jasa Raharja dari berbagai penjuru Indonesia. Tak hanya sekadar wisata, mereka mengusung misi mulia: menjadikan Karangrejek sebagai desa wisata berkeselamatan. Sebuah inovasi yang terdengar lebih serius dari es teh di warung angkringan, namun siapa sangka, justru penuh warna dan gelak tawa?
Misi Mulia, Eksekusi Penuh Drama
Dibuka secara megah pada 20 November 2024 oleh Asisten Deputi Bidang TJSL Kementerian BUMN, Edi Eko Cahyono, dan Direktur Operasional Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, acara ini sukses menarik perhatian. Tidak tanggung-tanggung, 15 pegawai muda yang katanya “anak-anak milenial penuh talenta” ini diterjunkan langsung ke desa. Misi mereka? Sosialisasi keselamatan berkendara, literasi pajak kendaraan, hingga pelajaran tentang bagaimana menghindari stunting—yang, sayangnya, kerap dipandang sebelah mata di banyak desa.
“Beta-JR ini lebih dari sekadar program. Ini adalah cara kami mendekatkan diri dengan masyarakat, bukan hanya soal kerja kantoran atau angka kecelakaan,” ujar salah satu relawan dengan senyum penuh percaya diri.
Drama Desa: Dari Tikungan Tajam Hingga Masalah Gizi
Desa Karangrejek memang punya potensi wisata yang luar biasa, tapi siapa yang mau datang kalau jalan menuju ke sana sering jadi arena balapan liar? Tingginya angka kecelakaan lalu lintas jadi tantangan utama. Tak hanya itu, isu stunting juga seperti duri dalam daging: kecil tapi mengganggu.
Para relawan tak hanya bicara teori. Mereka turun langsung ke rumah-rumah warga, membagikan buku panduan keselamatan, mengajarkan cara makan sehat (tidak hanya makan mie instan), dan bahkan membersihkan jalan. Drama terbesar mungkin adalah ketika seorang relawan, yang terbiasa dengan AC kantor, mendadak jatuh cinta pada nasi tiwul hangat dari dapur ibu-ibu desa.
“Rasanya seperti hidup di film dokumenter. Kami belajar banyak, dan semoga kami juga bisa mengajarkan sesuatu yang bermanfaat,” kata seorang relawan dengan logat khas Sulawesi.
Kritik dan Sindiran: Beta-JR, Jangan Jadi Beta-lupa!
Namun, harapan besar tetap menyimpan sindiran kecil. Banyak program serupa di masa lalu yang hebat di awal, namun kehilangan gaung setelah foto-foto seremonial selesai diunggah ke media sosial. Desa Karangrejek butuh perubahan yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek yang selesai begitu piala dan sertifikat dibagikan.
“Beta-JR ini langkah bagus, tapi jangan hanya jadi formalitas. Kami ingin yang konkret,” celetuk salah seorang warga dengan nada setengah bercanda, setengah berharap.
Optimisme Berbumbu Humor
Beta-JR di Karangrejek seperti angin segar yang diharap tidak hanya lewat begitu saja. Dengan program ini, Karangrejek punya peluang untuk menjadi contoh desa wisata berkeselamatan yang sesungguhnya. Bukan hanya tempat selfie di sawah, tapi desa yang benar-benar bikin pengunjung dan warganya merasa aman, sehat, dan bahagia.
Karangrejek kini punya segalanya: potensi alam, keramahan warga, dan dukungan dari anak-anak muda Jasa Raharja. Semoga saja, setelah program ini selesai, nama Karangrejek tak cuma muncul di berita, tapi juga jadi destinasi wajib bagi siapa saja yang ingin belajar bahwa keselamatan dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan.
Beta-JR, ingatlah: di balik gelak tawa dan nasi tiwul, ada harapan besar yang menunggu bukti nyata. Jangan sampai ini hanya jadi sekadar cerita pendek di media sosial. Bravo Karangrejek! Bravo Beta-JR!
















