Di tengah suhu politik yang sering naik-turun kayak harga cabai, udara Kota Batu pagi itu justru sejuk dan nasionalis. Wali Kota Batu, Nurochman, turun langsung dari kursi empuknya untuk memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Balai Kota Among Tani.
Acara ini bukan cuma ritual tahunan dengan spanduk besar dan MC bersuara formal, tapi juga jadi panggung membumikan Pancasila dari langit idealisme ke tanah realita. Tema yang diusung: “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya.”
Wah, judulnya kayak lagu kebangsaan yang siap dibikin remix kalau perlu—asal jangan disalahgunakan buat kampanye.
Selain upacara yang mengharukan dan menyegarkan semangat berbangsa (lebih menyegarkan dari es dawet depan kantor balai kota), Wali Kota juga menganugerahkan penghargaan kepada Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata.
Kenapa? Karena beliau berhasil mengungkap kasus pencurian komponen Penerangan Jalan Umum (PJU). Iya, betul, lampu jalan!
Malingnya canggih, bisa dibilang nasionalismenya padam bareng lampunya.
Pemain utamanya adalah Wali Kota Nurochman, yang bersinar lebih terang dari lampu PJU yang dicuri, dan tentu saja para tokoh daerah yang hadir mulai dari Wakil Wali Kota, Ketua PKK, Sekda, hingga 72 purna Paskibraka yang auranya lebih khidmat dari pasukan bendera di upacara 17-an.
Oh iya, 7 tokoh terpilih juga dilantik sebagai pengurus Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Batu 2025–2029.
Mereka bukan hanya anak muda berprestasi, tapi juga diharapkan bisa membumikan Pancasila. Harapannya: jangan sampai baru dilantik udah nyebar hoaks atau jadi duta endorse skincare abal-abal.
Upacara dilangsungkan di halaman Balai Kota Among Tani yang biasanya penuh orang ngurus surat, kali ini penuh semangat kebangsaan.
Lalu, pelantikan Duta Pancasila dilakukan secara sakral di Graha Pancasila. Tempatnya saja sudah menggetarkan jiwa nasionalisme, meski sebagian masyarakat masih getar kalau lihat tagihan listrik.
Acara digelar pada Senin, 2 Juni 2025.
Tanggal ini bukan sembarang tanggal, tapi momentum buat kita semua mengingat:
Pancasila bukan barang museum yang dipajang dan dilaporkan di Laporan Kinerja Pemerintah Daerah, tapi nilai hidup yang harus diamalkan meski dompet sedang tipis.
Tujuannya jelas: memperkokoh ideologi Pancasila, karena akhir-akhir ini ideologi seringkali digeser jadi “ide ologi-ologi” alias asal bunyi.
Wali Kota mengingatkan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, tapi tiang pancang bangsa.
Bukan tiang listrik, lho. Itu malah dicuri.
Pancasila harus hadir dalam semua lini: pendidikan, keluarga, media sosial, dan bahkan konten YouTube.
Jadi bukan cuma bisa sebut “Ketuhanan yang Maha Esa” pas upacara, tapi juga berperilaku esa dalam hidup sehari-hari. Jangan pas di medsos nulis “NKRI harga mati”, tapi pas antre vaksin, nyerobot sambil main HP.
Wali Kota memberikan amanat, dan BPIP mengirim pesan mendalam lewat Analis Hukum Ahli Madya, Janri Alin Tomson, yang bilang kalau para Purna Paskibraka ini adalah kader pilihan hasil seleksi ketat.
Bukan seleksi like & comment, tapi betulan pakai otak, hati, dan integritas.
Mereka akan dibentuk agar jiwanya Pancasilais, bukan Pancasi-lupa.
Karena bangsa ini butuh pemuda yang cinta negara, bukan cuma cinta views di TikTok. Yang bisa bekerja dengan gotong-royong, bukan gotong-ngomong doang.
—
GarengPetruk Menyela:
Sungguh indah Pancasila itu,
Sayang, sering jadi simbol doang.
Bendera dikibarkan tiap tanggal merah,
Tapi jiwa nasionalis bisa merah tiap buka kolom komentar.
Kalau mau membumikan Pancasila, jangan cuma lewat pidato dan plakat. Tapi lewat tindakan, dari hal paling kecil: sopan di jalan, jujur di meja kerja, dan gak bawa pulang pulpen kantor.
Duta Pancasila dilantik, semoga bisa jadi contoh hidup, bukan sekadar tokoh figuran dalam drama seremoni.
—
Penulis: Eko Windarto
Editor Satir: Redaksi GarengPetruk.com
Ngabdi lewat tawa, nyindir pakai cinta.















