Garengpetruk.com – Di negeri 1001 slogan ini, satu kata bisa bikin orang terharu… atau tertipu. Kita sudah kenyang dengan kata “merata”. Katanya, pembangunan harus merata. Tapi nyatanya, yang merata itu justru utangnya, bukan kesejahteraannya. Yang merata itu janji kampanye, bukan nasi di piring rakyat kecil.
Nah, Gareng dan Petruk hari ini usul satu hal kecil tapi maknanya besar: yuk, kita ganti diksi “merata” jadi “merasa”.
Iya, merasa! Karena rakyat itu bukan data statistik, bukan grafik excel, apalagi sekadar angka APBN. Mereka manusia, Bung! Manusia yang pengen merasa juga jadi bagian dari pembangunan, bukan cuma penonton sinetron panjang judulnya: “Negara Membangun Tapi Gue Masih Nganggur!”
Dari Jalan Aspal ke Hati yang Kesal
Bayangkan, pemerintah bilang pembangunan sudah merata karena jalan di desa sudah diaspal. Tapi rakyat bilang:
“Iya sih, jalannya mulus, tapi puskesmas tetap jauh, sinyal tetap nyangkut, dan bensin tetap mahal.”
Kalau diksi diganti jadi “merasa”, maka pembangunan tidak berhenti di beton, tapi nyampe ke jantung kehidupan. Merasa sehat karena puskesmas buka 24 jam. Merasa aman karena anak sekolah nggak harus nyeberang sungai pakai ban dalam. Merasa dihargai karena petani dibayar pantas, bukan cuma dibuai janji manis.
Anak-Anak Juga Punya Rasa
Kita sering dengar: “Pendidikan harus merata.” Tapi coba tanya anak-anak di pelosok. Mereka tetap belajar di sekolah berlantaikan tanah, atap bolong, dan papan tulis bekas zaman Orde Baru.
Coba ganti narasi jadi:
“Anak-anak harus merasa sekolah itu menyenangkan, murah, dan bermutu.”
Biar nggak ada lagi perbedaan mencolok antara anak kota yang belajar pakai tablet, dan anak desa yang tulisannya masih dikirim lewat daun lontar.
Harga Sembako: Jangan Cuma Rata, Tapi Terasa
Kalau harga sembako katanya “stabil”, kita tanya stabil di mana? Di layar presentasi menteri kah? Di rak-rak swalayan BUMN kah?
Rakyat kecil penginnya merasa murah, bukan cuma dengar berita bahwa inflasi terkendali. Mau makan telur dadar aja mikir dua kali, apalagi mikir punya cucu.
Negara Harus Belajar Rasa: dari Rasa Syukur Sampai Rasa Malu
Kalau pembangunan cuma pakai logika tanpa rasa, hasilnya adalah gedung tinggi tapi hati rakyat sepi. Maka negara harus belajar rasa:
Rasa empati, bukan hanya simpati lima tahunan saat kampanye.
Rasa syukur, bukan jumawa saat ekonomi naik sedikit.
Rasa malu, saat rakyat antre beras di negeri yang katanya subur.
Rasa takut, bukan takut kehilangan jabatan, tapi takut kehilangan kepercayaan rakyat.
Akhir Kata dari Petruk yang Merasa
Pembangunan bukan soal kecepatan, tapi soal kepekaan. Jadi mulai hari ini, yuk, dari Presiden sampai Ketua RT, dari Menteri sampai staf kelurahan, kita ganti slogan dari:
“Kami akan membuat pembangunan yang merata!”
menjadi:
“Kami ingin rakyat merasa hadirnya negara di setiap detak hidupnya.”
Biar negara ini bukan hanya besar di angka, tapi juga besar di rasa.
Salam dari Redaksi Harian Gareng Petruk:
Karena Hidup yang Penuh Rasa, Lebih Indah dari Sekadar Kata.















