Surabaya, garengpetruk.com, 24 Juli 2024 – Dalam sebuah acara yang lebih semarak dari pesta panen dan lebih meriah dari sunatan massal, Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se-Jawa Timur resmi dilantik untuk periode 2025–2030. Lokasinya mungkin bukan di tengah sawah, tapi aroma perjuangan petani menyengat sampai ke ubun-ubun. Dan bukan cuma pelantikan, acara ini juga disiram dengan gerakan penanaman indigofera serentak — semacam tanaman masa depan yang bukan buat diwarnai batik, tapi buat ngasih makan ternak dan harapan.
Petani Dilantik, Harapan Ditanam
Dengan gegap gempita layaknya hajatan kampung, pelantikan HKTI ini diramaikan oleh Gubernur Jatim, Bu Khofifah, yang tampil bukan hanya sebagai kepala daerah tapi juga Ibu Asuh para petani. Dalam pidato yang bikin hati maknyess dan mata nyaris netes, beliau menegaskan bahwa petani bukan cuma profesi, tapi takdir mulia.
“Petani itu bukan cuma urusan cangkul dan lumpur, tapi soal urat nadi bangsa. Tanpa mereka, nasi di meja cuma jadi wacana,” ujar beliau sambil senyum semringah.
Ketua HKTI Jatim, H. Arum Sajil, tampil dengan semangat ala gladiator ladang. Beliau menyatakan, ini bukan soal jabatan, tapi soal perjuangan. “Kita nggak cuma nanam padi, tapi juga menanam harapan. Kalau perlu, kita tanam mimpi!” katanya penuh semangat sampai rumput tetangga ikut bergetar.
Indigofera: Si Kecil yang Diharap Besar
Nah ini, bagian paling eksotik: penanaman indigofera serentak! Bukan tanaman biasa, bro. Ini makanan elite buat kambing dan sapi, semacam superfood versi rumput. Tapi di balik daunnya yang hijau itu, terkandung niat besar: menyelamatkan pertanian dari ancaman zaman.
KH. Imam Haromain, S.Ag, MM.Pd — yang jabatannya panjang dan semangatnya lebih panjang lagi — turut angkat suara dengan gaya khasnya: bijak tapi ngocol.
“Petani itu kayak prajurit. Bedanya, mereka perang sama musim dan hama. Senjatanya cangkul, tapi strateginya bisa bikin Jenderal kagum,” celetuknya sambil ketawa.
Beliau juga menyentil generasi muda yang lebih doyan scroll TikTok ketimbang nyangkul. “Kalau semua anak muda pengen jadi selebgram, siapa yang nanam nasi kita? Jangan sampai masa depan pertanian kita cuma tinggal efek filter!” katanya sambil geleng-geleng tapi senyum penuh harap.
Panggung Tani, Kritik Penuh Padi
Acara ini, meskipun penuh senyum, sebenarnya adalah panggung kritik. Kritik terhadap sistem yang seringkali melupakan petani. Mereka yang kerja dari subuh sampai sore, masih juga kerap dipandang sebelah mata. Padahal, kalau petani mogok seminggu aja, harga cabai bisa bikin nangis sebelum dikupas.
HKTI Jatim, dengan kepengurusan baru, mengangkat semangat bahwa pertanian adalah masa depan. Tapi masa depan itu butuh dukungan. Dari pemerintah, dari masyarakat, dan dari anak-anak muda yang lebih rela main game ketimbang main tanah.
“Kita ingin bertani itu jadi tren. Jadi gaya. Jadi pilihan hidup, bukan pelarian nasib,” ujar salah satu pengurus HKTI yang rambutnya udah putih tapi semangatnya hijau.
Revolusi Hijau Dimulai di Sini
Acara ini bukan sekadar formalitas penuh foto dan spanduk. Ini adalah deklarasi perang terhadap ketergantungan pangan, terhadap perubahan iklim, terhadap mental malas bertani. Dan yang jadi jenderalnya? Petani. Yang jadi pasukannya? Rakyat. Yang jadi benderanya? Daun-daun indigofera yang ditanam hari itu.
HKTI se-Jatim resmi dilantik. Indigofera resmi ditanam. Dan revolusi hijau resmi dimulai. Bukan dengan pidato di podium, tapi dengan tangan kotor yang menggenggam harapan.
“Selamat bekerja, wahai para petani. Kalian bukan cuma penyambung hidup kami, tapi juga penyelamat masa depan kami,” tulis redaksi Gareng Petruk sambil menatap selembar daun indigofera yang tertiup angin, entah ke mana.

Gareng dan Petruk Ngendiko:
“Kalau dulu petani digambarkan pakai caping dan kaos bolong, kini saatnya digambarkan pegang tablet, pakai topi smart-farming. Tani itu seksi, asal diseriusi. Biar anak muda gak cuma pinter nyiram status, tapi juga nyiram tanaman!”
















