Aku telah lama berjalan
menyusuri lorong-lorong kota yang bising,
menghirup debu ambisi
dan meneguk gelas kosong pujian.
Langkahku berat
karena hatiku kehilangan arah,
seperti burung yang melupakan langit
dan lebih mencintai sangkar dari cahaya.
Aku tertawa—
tapi bukan dari dada, hanya dari wajah,
karena dalam relung terdalam
ada tangis yang tak pernah punya bahasa.
Dunia ini memelukku
dengan pelukan yang menusuk,
dan aku pun balas memeluknya
dengan kesetiaan seorang yang ditinggal Tuhan.
Aku lupa…
bahwa jiwa ini bukan tanah,
bukan pasar, bukan papan iklan,
tapi cahaya yang dulu ditiupkan dari langit.
Aku pernah tahu
bagaimana rasanya menangis dalam sujud,
bukan karena kesedihan,
tapi karena rindu.
Kini, rindu itu adalah sepi
yang tak tahu harus memanggil siapa.
Di malam yang retak,
aku menengadah dan bertanya:
“Tuhanku, apakah Kau masih di situ?”
Dan angin menjawab lembut:
Aku tak pernah pergi, kau saja yang menjauh.
Air mataku jatuh,
bukan karena kehilangan dunia,
tapi karena kehilangan arah pulang.
Aku ingin pulang,
bukan ke rumah yang berdinding bata,
tapi ke pelukan-Mu
yang tak butuh alasan untuk menerima.
Di setiap sujud,
kutitipkan rindu yang tak tahu kapan reda,
karena Engkau—
Engkau adalah rumah yang tak pernah tutup pintunya.
















