BOGOR, GARENG PETRUK NEWS – Di tengah semangat pembangunan fisik dan ekonomi nasional yang terus dipacu oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ternyata ada satu bentuk investasi yang tidak kalah penting: Penanaman Modal Akhirat (PMA). Bukan sekadar jembatan dan jalan tol, tapi jembatan hati dan jalan menuju surga.

Dalam hal ini, Dr. H. Mulyadi, MMA, Anggota DPR RI Komisi VI Fraksi Gerindra dari Dapil Jabar 5 (Kabupaten Bogor), tampil sebagai legislator yang nggak hanya bicara soal logistik dan anggaran, tapi juga logika nurani dan anggaran langit.
“Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, jangan sampai kita lupa bahwa manusia bukan hanya makhluk ekonomi, tapi juga makhluk abadi. Pemerintahan boleh membangun infrastruktur, tapi rakyat harus membangun iman dan amal. PMA itu fondasi untuk Indonesia yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga kokoh secara ruhani,” ucap Mulyadi dalam nada yang menusuk ke dada tapi hangat di hati.
PMA, Modal Ketiga Pembangunan Bangsa
Menurut Mulyadi, pembangunan bangsa harus berdiri di atas tiga modal utama:
1. Modal Fisik (jalan, jembatan, ekonomi)
2. Modal Sosial (gotong royong, solidaritas)
3. Modal Akhirat (keikhlasan, kebaikan, amal)
“Apa artinya Indonesia maju kalau hati rakyatnya saling curiga? Apa artinya ekonomi tumbuh kalau jiwa kita kering? Maka tanamlah modal akhirat. Bangun masjid, bantu tetangga, maafkan yang berbeda, dan sebarkan senyum. Bukan demi viral, tapi demi keselamatan abadi,” ujar Mulyadi penuh getaran moral.
Pesan Legislator: Menohok, Menyentuh, Mendamaikan
Dengan gaya khasnya yang lembut tapi tajam, Dr. Mulyadi menyampaikan pesan yang bisa bikin pejabat merenung dan rakyat tergerak:
“Negara ini tidak hanya butuh gedung tinggi, tapi juga hati yang rendah. Tidak cukup kita membangun jalan tol, kalau hati kita masih penuh ego. Pemerintahan Prabowo harus menjadi pemerintahan yang tidak hanya berorientasi ke depan, tapi juga ke atas: kepada Tuhan Yang Maha Esa.”
“Kebaikan yang ditanam hari ini mungkin tidak akan masuk APBN, tapi pasti tercatat di neraca langit. Mari, rakyat Indonesia… mari tanam kebaikan. Jangan menunggu tua, jangan menunggu kaya. Karena kematian tidak pernah buka Pesanan,” tambahnya, disambut Gareng yang langsung merenung sambil memegang dompet tipisnya.
Gareng & Petruk: Indonesia Emas Dimulai dari Hati yang Ikhlas
Gareng menyimpulkan: “Kalau PMA dijalankan serius, Indonesia bukan cuma emas tahun 2045, tapi bisa jadi platinum di mata Tuhan.”
Petruk menimpali: “Karena kekayaan sejati bukan di rekening bank, tapi di rekening amal.”
Indonesia, Bangkitlah!
Mari kita jadikan usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia ini sebagai tonggak kebangkitan lahir dan batin. Pemerintahan boleh membangun dari atas, tapi rakyat harus menanam dari bawah. Dari rumah ke rumah. Dari hati ke hati.
Gareng-Petruk pamit dulu, mau bikin brosur PMA keliling kampung. Nggak butuh izin OSS, cukup niat yang lurus dan langkah yang tulus.
















