Dulu aku kira cinta itu kayak nasi kucing: sederhana, cukup, dan murah meriah. Tapi ternyata, kalau udah dibumbui emosi, bisa berubah jadi sego oseng sambel setan – panas di mulut, pedas di hati. Dan kebencian? Nah, itu kayak gorengan sisa semalam: keras, berminyak, dan bikin perut mules.
Aku kenal cinta dan benci bukan dari novel atau puisi. Tapi dari mantan. Namanya Mawar (bukan nama sebenarnya, karena nama aslinya lebih ke arah Mustasyar). Mawar ini unik. Kadang bikin aku pengin peluk, kadang pengin aku lempar pakai pasal 27 ayat 3 UU ITE.
Sampai suatu malam, dia datang dengan mata sendu dan bibir miring kayak emot kecewa di WhatsApp.
> “Kamu benci aku, ya?” katanya.
Aku yang lagi ngopi di beranda langsung kaget, hampir keselek gorengan.
> “Lho, kok benci? Cuma… ya, kadang pengin kamu dicabut dari daftar kontak darurat BPJS.”
Dia diam, aku bingung. Tapi dalam diam itu, aku sadar: ini bukan soal benci, ini soal jujur.
GARENG NYELUTUK:
“Cinta itu seperti SK pengangkatan PNS, lur. Ditunggu lama, dapatnya senangnya setengah mati. Tapi setelah dijalani, kadang pengin ngundurkan diri diam-diam.”
—
Aku duduk termenung, antara sayang dan sebal, antara ingin memeluk dan ingin meng-unfollow. Dalam pikiranku, terbayang kalau cinta dan benci itu kayak dua sisi koin receh: beda wajah, tapi tetap satu logam.
> “Kamu pernah berharap aku mati?” tanya dia lagi.
Wah, ini pertanyaan jebakan batman. Aku terdiam. Dalam hati, aku jawab: nggak, tapi kadang pengin kamu pensiun dari hidupku sebentar.
Tapi yang keluar dari mulutku malah, “Enggak kok. Itu cuma efek kebanyakan nahan emosi sambil baca caption kamu yang penuh quotes motivasi padahal itu sindiran buat aku.”
PETRUK MENGANGGUK:
“Cinta dan benci itu seperti Pemilu. Katanya satu tujuan, tapi ujung-ujungnya debat terus sampai pengen golput dari hubungan.”
—
Lalu aku mulai mikir… Kenapa kita sulit jujur dengan perasaan sendiri? Apa karena takut dianggap lemah? Atau takut kehilangan kontrol? Atau karena takut ketahuan bahwa kita… ya manusia, yang kadang logikanya kalah sama luka?
Di antara cinta yang penuh harapan dan benci yang penuh luka, aku akhirnya sadar: yang kutakuti bukan dia. Yang kutakuti adalah bayangan dalam diriku sendiri.
MORAL DI WARUNG KOPI:
Cinta bukan selalu soal mesra. Kadang cinta itu justru tentang bertahan di tengah rasa kesal yang nggak ketulungan. Tentang memilih tetap di sampingnya, bahkan ketika pikiran kita udah main sinetron 200 episode di kepala.
—
Dan pada akhirnya, aku bangkit. Aku ingin menemuinya. Ingin bilang: “Ya, aku pernah benci. Tapi aku juga pernah – dan masih – cinta. Dan dua-duanya bukan untuk disangkal, tapi untuk dipahami.”
Karena di dunia ini, yang bikin manusia rusak bukan cuma kejahatan… tapi juga ketidakjujuran atas apa yang sebenarnya dirasa.
GARENG & PETRUK MENUTUP DENGAN BIJAK:
“Kalau hatimu seperti pasar malam – ramai, berisik, dan penuh lampu kelap-kelip – jangan cari yang bisa menenangkan. Carilah yang mau jualan gorengan sambil nemenin kamu sampai tenda-tendanya dibongkar.”
—
Batu, 1552025
Tulisan ini fiksi. Jika ada kesamaan nama atau perasaan, berarti kamu belum move on. Mari ngopi dulu, sambil meluruskan rasa yang miring.
















