Minahasa Selatan – Terdengar dari balik gunung dan bukit Minahasa, sebuah kabar yang bikin hati bergetar: Petra Yani Rembang dan Frede Aries Massie, dua nama yang siap maju di Pilbup Minahasa Selatan 2024, jadi sorotan. Apalagi kalau sudah di-back up oleh Frendy Wongkar, Sekjen DPP Pasukan 08, makin bikin heboh suasana.
Namun, meskipun sudah mulai ramai dibicarakan di warung kopi sampai balai desa, Sofian Malonda, tokoh penting di kancah politik lokal, masih bilang, “Sabar, saudara-saudara! Semua ini masih dinamis, tenang dulu.” Eits, jangan salah! “Dinamis” di sini bukan berarti goyang kiri-kanan tanpa arah. Dinamis di politik Minahasa Selatan itu artinya lagi ‘diracik bumbu’-nya sama para tokoh strategis. Kalau istilah Gareng Petruk, lagi diulek-ulek kayak sambal biar pedasnya pas, bikin ngiler tapi nggak kebanyakan cabe!
Masih menurut Sofian, “Masukan dan arahan dari Sekjen Frendy Wongkar akan segera kami rapatkan,” ujar pria yang terkenal kalem tapi penuh strategi itu. Mungkin Sofian ini kayak pemain catur yang sabar, nunggu lawan gerak dulu sebelum dia ‘skak mat’.
Nah, kalau Petra Yani Rembang dan Frede Aries Massie jadi calon, pertanyaannya adalah: Apa mereka bisa kasih solusi yang dibutuhkan Minahasa Selatan? Apa mereka mampu bawa angin segar untuk perubahan yang lebih baik? Kita sih nggak minta banyak ya, yang penting jangan sekadar janji-janji kosong, nanti nggak beda sama kembang gula—manis di luar, tapi cuma angin di dalam!
Jangan lupa nih, Minahasa Selatan punya PR besar: dari masalah infrastruktur, pendidikan, hingga soal lapangan kerja. Kalau mau jadi bupati dan wakil bupati, Petra-Frede kudu turun langsung ke lapangan, ngerasain gimana susahnya masyarakat. Bukan cuma muncul di poster-poster dengan senyum lebar bak seleb, tapi turun tangan ngurusin problem nyata di tanah Minahasa. Itu baru pemimpin yang bener-bener melayani!
Nah, begitulah cerita di Minahasa Selatan kali ini. Kita tunggu gebrakan nyata dari duo Petra-Frede. Semoga ke depannya ada pemimpin yang bener-bener paham bahwa jadi pemimpin itu melayani, bukan dilayani. Gareng Petruk pamit dulu, kita lanjut nonton aja gimana drama politik ini berlanjut, siapa tahu bisa lebih seru dari sinetron!
















