Gareng: “Lautku, rejekiku. Tapi kenapa kayak main rebutan jatah bansos, ya?”
Petruk: “Yo to, ndoro! Nelayan kok kudu jadi atlit triathlon: ngadepi ombak, ngejar kapal asing, terus adu mulut soal harga ikan.”
—
Pasuruan, Tanah Surga yang Lautnya Bisa Nangis
Di pinggiran pesisir Pasuruan yang anginnya semriwing dan bau lautnya kadang lebih tajam dari kritik DPR, ribuan nelayan menggantungkan hidupnya dari laut. Tapi, jangan dikira mereka cuma mikir “mancing yuk”, lho. Ini perjuangan! Antara jaring yang bolong dan kebijakan yang bolong juga.
Kedaulatan laut di sini bukan cuma soal batas teritorial. Ini soal makan atau nggak makan. Soal bisa sekolahin anak atau ngutang terus ke koperasi simpan-nyesek.
Ombak Ngamuk, Kapal Nganggur, Nelayan Nyungsep
Setiap kali malam turun dan ombak mulai bergoyang kayak konser dangdut, nelayan Pasuruan bersiap taruhan nasib. Tapi yang bikin pusing kepala bukan cuma gelombang setinggi utang negara. Di balik gelapnya malam, ada kapal asing yang nyelonong kayak tak kenal sopan santun.
Nelayan lokal jadi kayak tamu di rumah sendiri. Lah gimana, yang datang kapal gede, jaring panjang, isinya sonar canggih. Lha yang lokal? Perahunya kadang malah harus didorong dulu sebelum jalan.
Petruk: “Lah, kapal nelayan kita itu kalau disenterin aja bisa bocor, ndoro!”
—
TPI: Tempat Pelelangan Ikan atau Tempat Pelipur Iman?

TPI yang katanya pusat ekonomi, di beberapa titik malah kayak rumah hantu. Sepi, gelap, dan gak jelas siapa pengurusnya. Nelayan akhirnya balik lagi ke tengkulak yang saban hari ngasih harga lebih miring dari selimut sumbangan.
“Mas, jual ikan ke tengkulak itu kayak jual hati ke mantan. Sakit tapi kudu dijalanin,” kata nelayan sambil ngelus dada yang makin tipis dompetnya.
—
Pelabuhan Pasuruan: Potensi Segede Gaban, Realisasi Setengah Takjil
Katanya, Pelabuhan Lekok itu strategis. Letaknya jempolan, kapasitanya bisa ngangkut ekonomi satu kota. Tapi kenyataannya? Banyak kapal rusak mangkrak di dermaga, akses masuk sempit kayak jalan tikus. Kadang-kadang malah dijadiin tempat jemur jaring, bukan aktivitas ekonomi.
Pak Khoirus Sholeh dari IP2SKP bilang, “Kita ini jantung maritim, tapi sering kejang karena kebijakan yang gak nyambung.”
Gareng: “Yo jelas, ndoro. Gimana kapal mau maju, pelabuhannya aja kayak pacaran LDR—banyak harapan, minim ketemu!”
—
PermenKP No. 8/2012: Peraturan atau Pajangan?
Aturan udah ada. Tapi kayak kutipan motivasi di WhatsApp grup keluarga—banyak dibaca, jarang dipraktikkan. PermenKP itu penting, soal pengelolaan laut dan perikanan. Tapi kalau gak ada sosialisasi, masyarakat bingung. Tau-tau disalahin, tau-tau kena larangan.
Petruk nyeletuk: “Peraturan itu kayak Wi-Fi gratisan, ndoro. Ada, tapi sinyalnya gak nyampe ke rakyat.”
—
Solusinya? Bukan Seminar. Tapi Aksi Nyata!
Kalau Pasuruan mau bangkit sebagai poros ekonomi maritim, ya jangan tanggung-tanggung. Hidupkan lagi TPI, benahi pelabuhan, dan buka telinga buat keluhan nelayan. Pemerintah jangan cuma turun waktu banjir pujian, tapi juga pas gelombang keresahan naik.
Jangan jadikan nelayan sebagai slogan iklan kampanye, tapi jadikan mereka aktor utama di panggung ekonomi biru.
—
Nelayan Bukan Figuran dalam Film Kemaritiman
Mereka bukan hanya pencari ikan. Mereka penjaga kedaulatan, pahlawan pangan, dan penjaga ekosistem laut. Tapi sayangnya, kadang mereka diperlakukan kayak watermark—selalu ada tapi dilupakan.
Sudah saatnya Pasuruan dan negeri ini membuka mata. Laut bukan tempat buang masalah. Laut adalah halaman depan rumah kita, dan nelayan adalah satpam, koki, dan penjaganya sekaligus.
Gareng: “Kalau laut rusak, siapa yang nyiapin makan malammu, ndoro?”
Petruk: “Lha iya, masak kamu mau hidup dari ikan NFT?”
—
Penutup: Jangan Tunggu Nelayan Jadi TikToker Baru Didengar
Pasuruan punya segalanya. Laut yang luas, pelabuhan yang strategis, nelayan yang tangguh. Tapi tanpa dukungan serius, semua itu hanya jadi cerita. Cerita sedih yang berakhir di warung kopi dan postingan netizen yang viral sebentar, lalu hilang ditelan berita gosip selebriti.
Mari, dari pemimpin sampai pembaca meme, kita mulai peduli. Karena kedaulatan laut bukan cuma urusan kapal dan jaring, tapi masa depan anak cucu kita.
—
Petruk pamit, Gareng tidur. Tapi kritik kami tetap nyaring.
Wassalamualaikum, dan jangan lupa beli ikan dari nelayan lokal. Bukan dari freezer impor!
















