Bondowoso – GarengPetruk.com
Di lereng Ijen yang dingin tapi penuh semangat, Wakil Presiden kita yang baru, Mas Gibran Rakabuming, blusukan lagi. Kali ini bukan buat bagi-bagi sembako atau ngecek TikTok UMKM, tapi ikut Panen Raya Kopi di Java Coffee Estate, Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur. Hari itu, 24 Juni 2025, biji kopi merah dipetik, janji-janji manis ditebar, dan… nasib petani tetap dikemas dalam karung harapan.
Kegiatan ini katanya sih bagian dari program Asta Cita ala Prabowo-Gibran. Pilar utamanya: penguatan UMKM, branding produk lokal, dan bonus: peluk hangat untuk para petani yang hidup dari aroma kopi tapi jarang mencium wangi kesejahteraan.
“Kopi Kita Sudah Mendunia,” Kata Wapres — Tapi Dompet Petani Masih Nyangkut di Dunia Lama
Dalam sambutannya, Wapres Gibran bilang dengan gagah:
“Indonesia produsen kopi keempat dunia. Sekarang saatnya jaga kualitas dan tingkatkan kuantitas!”
Bener, Pak! Kopi kita memang bikin orang luar negeri melek. Tapi sayangnya, petaninya masih sering merem karena lapar. Di tengah aromanya yang mendunia, harga di kebun masih nyesek di dada: Rp15.000/kg untuk cherry kopi. Padahal kalau jadi green bean, bisa nembus Rp160.000/kg. Gila, margin-nya kaya pinjol.
Hilirisasi dan Branding: Dua Kata Sakti, Tapi Siapa yang Dapat Untung?
Wapres juga menyoroti pentingnya hilirisasi dan branding. Katanya:
“Kualitas saja tidak cukup. Harus ada branding. Nama besar Indonesia harus melekat!”
Wah, Pak, kami setuju. Tapi jangan sampai branding-nya dijual ke luar negeri, sementara petaninya cuma nonton dari YouTube. Branding itu keren, tapi jangan sampai petani kita jadi back-end yang terus-terusan di-outsource. Jangan sampai “kopi Ijen” mendunia, tapi yang panen tetap nggenjot upah Rp2.000 per kilogram. Itu bukan branding, itu brankas yang dikunci dari dalam.


Panen Raya: Ada Caping, Ada Kamera, Ada Kambing… Tapi Mana Sistemnya?
Wapres dan rombongan ikut panen sambil bawa caping dan keranjang. Indah sekali. Ada 150 petani, 10 hektare panen, dan hasil rata-rata 3 kg per pohon. Selesai panen, ada seremoni: lima sembako dan lima kambing dibagi ke petani — sebagai tanda apresiasi. Aih, betapa manisnya… seperti gula aren dalam es kopi kekinian.
Tapi… tunggu dulu. Kalau kopi ini sudah diekspor ke mancanegara, dan branding-nya sudah global, kenapa apresiasinya masih sebatas kambing? Kambing itu lucu sih, tapi kalau harapan rakyat cuma dijawab pakai bantuan simbolis, ini namanya bukan hilirisasi — tapi hiburanisasi.


Solusi Jangka Panjang: Koperasi Merah Putih dan Pabrik Pengolahan
Gibran bilang, pemerintah bakal bentuk Koperasi Merah Putih untuk memfasilitasi pemasaran dan permodalan petani.
“Tunggu sebentar lagi,” katanya.
Wah, Pak… “sebentar lagi” itu frase yang paling lama dalam sejarah birokrasi. Biasanya kalau pemerintah bilang “sebentar”, rakyat sudah siap bikin bekal jangka panjang. Kami harap ini bukan koperasi-koperasian yang nanti jadi korupsi-korupsian.
Sementara itu, Dirut PTPN IV, Pak Jatmiko, ngasih data mencolok: produktivitas petani masih 180–300 kg/hektare. Targetnya 2 ton/hektare. Mantap. Tapi syaratnya, petani harus dipandu, bukan cuma dipantau. Dan harus disediakan akses — bukan hanya aksesories.
Kopi, Kambing, dan Kontradiksi
Panen raya ini adalah momen penting. Tapi lebih penting lagi adalah menjawab pertanyaan: kenapa petani kopi masih diupah Rp2.000/kg di tengah lonjakan harga kopi global? Jangan sampai kopi jadi simbol prestise, tapi rakyat yang menanamnya hidup dalam status pending.
Karena dalam cangkir kopi itu, bukan cuma ada rasa pahit dan asam, tapi juga ada cerita — tentang ketimpangan, kerja keras, dan cita-cita yang belum diseduh sempurna.
Salam seduh dari kami, Gareng Petruk, yang selalu percaya bahwa biji kopi bisa merdeka,
asal yang panen bukan cuma pejabat dan pengusaha.















