Jember, garengpetruk.com – 20 Mei 2025
Di tengah panasnya siang, bau bensin, dan suara klakson bersautan, segerombolan pengemudi ojol yang biasanya sibuk antar-jemput orderan, kali ini malah ngegas di depan kantor Pak Wabup dan DPRD. Tapi jangan salah paham dulu, ini bukan ngegas orderan, tapi ngegas aspirasi!
Forum Komunikasi Jember Online Bersatu (FKJOB), mewakili seluruh pengemudi ojol se-Jember Raya, ngadain demo damai. Bukan demo cabe-cabean, lho, tapi demo yang serius tapi tetap santuy. Disaksikan langsung oleh Pak Kapolres, mereka menyuarakan keluh kesah yang selama ini hanya terpendam di balik helm dan jaket anti-UV.
Ojol Bukan Hanya Roda Dua, Tapi Tulang Punggung Keluarga
Bukan mau lebay, tapi para ojol ini emang merasa jadi pahlawan yang tak dianggap. Sudah banting tulang dari subuh sampe malam, eh malah dapet tarif yang lebih murah dari harga parkir mal. “Kami ini tulang punggung keluarga, tapi kok rasanya malah kayak tulang ikan—sering dibuang,” kata salah satu pengemudi sambil nyender di motornya.

Tuntutan FKJOB: Bukan Cuma Empat, Tapi Empat yang Dalem Banget
Mereka menyerahkan empat tuntutan, yang kalau disingkat bisa jadi “T.A.R.I.K” (Tarif, Aturan, Rincian, dan Kepastian hukum). Nih rinciannya:
1. Kenaikan Tarif – Tarif yang sekarang katanya masih pakai aturan dari 2022, padahal UMR udah naik tiga kali. Lah, bensin aja udah naik, masa tarif ojol masih stagnan? Ini bukan saham, Pak, ini urusan perut.
2. Regulasi Layanan Barang dan Makanan – Lah, ojol kan gak cuma nganter orang, tapi juga nganterin cinta lewat nasi padang dan boba. Tapi sayang, regulasinya nihil. Jadi aplikator bisa main tarif semaunya. Mirip mantan yang tiba-tiba ghosting.
3. Tarif Bersih – Minta transparansi, bukan kode. Supaya penghasilan nggak kayak hubungan LDR: gak jelas arahnya, banyak potongan, tapi tetap dijalanin karena butuh.
4. UU Transportasi Online – Ini bukan mimpi, tapi harapan jangka panjang biar ojol punya payung hukum. Soalnya kalau hujan, mereka basah. Kalau nggak ada UU, mereka basah kuyup hukum.

Pak Wabup dan DPRD Menerima dengan Santuy, Pak Kapolres Mengangguk Bijak
Tuntutan sudah diserahkan, tinggal tunggu reaksi. Pak Wabup menerima dengan wajah serius dan senyuman tipis (yang katanya sih pertanda mikir keras atau pengin kopi). DPRD pun katanya siap menampung aspirasi ini, bukan cuma di meja, tapi juga di hati (kita doain aja ya…).
Kapolres hadir jadi saksi mata, sekaligus saksi hidup betapa tertib dan damainya aksi ini. Tak ada lempar batu, tak ada bakar ban. Yang dilempar cuma senyum dan selebaran tuntutan.
Gareng dan Petruk Berpesan: Ojol Bukan Mesin Orderan, Tapi Manusia Juga
Kalau kata Petruk, “Wong ojol kuwi sakjane superhero tanpa jubah. Wong ra nduwe kekuatan, tapi iso ngirit waktu wong liya.” Gareng nambahin, “Sing penting tuntutan wis mlebu, tinggal ndedonga mugo-mugo pemerintah ora mung krungu, tapi gelem tanggap lan tumindak.”

Ayo, Pak Wabup dan dewan, jangan biarkan mereka terus ‘diperah’ tanpa rasa. Kasihan, mereka itu bukan robot. Kalau order terus tapi dapet
receh, lama-lama bisa error beneran.
















