Kota Batu, GarengPetruk.com — Bagi sebagian orang, tanah liat hanyalah segumpal benda yang kotor di tangan. Tapi bagi Muchlis Arif dan Studio MataHati Ceramics, tanah liat adalah media spiritual—tempat kenangan masa lalu dan semangat masa kini bertemu, berdialog, dan kadang… saling berdebat. 😄
Dari 9 hingga 23 November 2025, pameran bertajuk “Mata Ruang Lama Kini” di Jalan Wastu Asri, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, bukan cuma tempat memajang keramik cantik, tapi juga tempat menyelami filosofi hidup lewat bentuk, tekstur, dan waktu yang dipadatkan dalam karya seni.
🏺 Tanah Liat, Waktu, dan Jiwa yang Menyatu
Judul pameran ini ibarat teka-teki sastra:
“Mata” adalah pandangan dan pengamatan,
“Ruang” adalah wadah kenangan dan makna,
dan “Lama Kini” adalah perjalanan waktu yang dilipat seperti lipatan tanah basah di tangan sang seniman.
“Tanah liat yang tampak biasa bisa menjadi karya yang berbicara tentang waktu dan ruang. Ia tidak hanya dibentuk, tapi juga membentuk kembali kenangan dan kesadaran kita,” tutur Muchlis Arif, sang penggerak pameran.
Karya-karya di ruang pamer ini seperti bisikan halus dari masa lalu Kota Batu—dari kebun apel yang basah hingga semangat kreatif warganya yang tak pernah padam.

🌿 Batu SAE dan Semangat Kolaborasi
Kota Batu bukan cuma dingin udaranya, tapi juga hangat jiwanya. Filosofi “Batu SAE” — Saling Asah, Saling Encer, dan Saling Empati—terasa kental dalam pameran ini.
Studio MataHati Ceramics tak berjalan sendiri. Mereka menggandeng komunitas seni, pemerintah kota, hingga sektor pariwisata dan pendidikan. Semua bergandengan tangan seperti roda tembikar yang terus berputar, membentuk sesuatu yang indah dan bermakna.
“Kami ingin semua elemen masyarakat bisa berjumpa dalam suasana kreatif. Pameran ini bukan hanya ruang seni, tapi ruang pertemuan batin,” kata Arif menambahkan.
🕰️ Ruang yang Mengajak Kita Melintasi Waktu
Desain ruang pameran dibuat seperti lorong waktu — dari suasana tradisi yang hangat, menuju ruang modern yang penuh refleksi, hingga akhirnya menatap masa depan seni kontemporer Indonesia.
Acara pembukaan pada 9 November pukul 15.00 WIB bakal jadi momen yang meriah sekaligus khidmat.
Lalu di 15 November, ada sesi Art Talk bareng seniman dan kritikus—di mana pembicaraan bisa ngalor-ngidul dari filosofi estetika sampai… harga tanah liat di pasaran (kalau Bagong ikut nimbrung 😆).
💬 Gareng Berbisik di Sudut Galeri
Gareng, sambil melihat keramik berbentuk kendi zaman dulu, nyeletuk:
“Iki sing disebut ‘masa lalu dibakar ulang jadi masa depan’, to, Gong?”
Bagong menjawab, sambil ngelap tangan yang belepotan tanah liat:
“Yo bener, tapi ojo kakean dibakar, Gar! Nanti malah pecah hatinya!” 😂
🧡 Dari Pameran Jadi Gerakan
Tak cuma pameran, “Mata Ruang Lama Kini” adalah manifesto seni hidup.
Studio MataHati Ceramics ingin seni keramik naik kelas — dari kerajinan tangan jadi bahasa ekspresi dan intelektualitas.
Dengan tiket masuk gratis dan buka setiap hari pukul 08.00–19.00 WIB, pameran ini mengundang semua: pelajar, wisatawan, pecinta seni, dan bahkan mereka yang cuma penasaran, untuk datang, belajar, dan merasakan energi kreatif Kota Batu.
🌈 Penutup yang Penuh Harapan
Pameran ini bukan akhir, tapi awal babak baru bagi ekosistem kreatif Kota Batu.
Tanah liat, di tangan para seniman, tak lagi sekadar benda—ia adalah cerita, doa, dan cita-cita yang dibentuk dengan penuh cinta.
“Mata Ruang Lama Kini” mengajak kita untuk menengok ke belakang tanpa lupa berjalan ke depan.
Seperti tanah liat yang dibakar, kehidupan pun dibentuk oleh panasnya proses.
💬 Gareng menutup dengan bijak:
“Neng Batu iki, tanah liat ora mung digawe kendi, tapi digawe dadi kenangan sing ora entek-entek.”
Bagong menimpali:
“Yo wis, ayo ndelok pamerane, sapa ngerti ketemu inspirasi… utawa jodoh!” 😜
🪶 GarengPetruk.com – Media Cerdas Rakyat Jenaka
“Ngabarké sing serius, nganggo cara sing waras lan nyenengké.”
















