Wahai saudara-saudara sebangsa, setanah air, se-scroll timeline, dan se-fake happiness… mari kita duduk sebentar, tarik napas panjang, sebelum hidup kita makin dikendalikan oleh benda tipis bernama smartphone dan makin menjauh dari hal-hal yang seharusnya dekat: diri sendiri, keluarga, tanah air, dan rasa kemanusiaan.
Zaman sekarang, manusia katanya makin modern. Tapi entah kenapa, makin modern malah makin sering lupa.
Iya, lupa.
Lupa sama asal-usulnya, lupa tanah tempat dia lahir dan tumbuh, lupa bahasa sendiri yang diganti caption Inggris biar keliatan keren. Lupa sama budaya, karakter, bahkan… sama rasa.
Gareng pun nyeletuk,
> “Petruk, ini manusia atau wifi? Deket sinyal, jauh dari akal.”
Sekarang apa-apa dikejar instan.
Orang lebih hafal jadwal konser K-Pop daripada tanggal lahir ibu.
Lebih fasih bahasa Korea daripada bahasa daerah.
Lebih bangga jadi “global citizen” daripada warga RT yang ngerti tetangganya butuh apa.
Katanya sih biar “terbuka pada dunia”. Tapi jangan sampai saking terbukanya, akar budayanya malah copot.
Petruk garuk-garuk kepala (yang padahal nggak gatal),
> “Kalau kamu nggak tahu kamu dari mana, kamu juga nggak bakal ngerti mau ke mana.”
Lali Lupa ini penyakit zaman sekarang yang nggak bisa disembuhin pakai antibiotik. Karena penyakitnya bukan di badan, tapi di hati dan pikiran.
Manusia lebih rajin update status daripada update nurani.
Lebih peduli jumlah likes daripada siapa yang lagi kesusahan di samping rumah.
Lebih sering “share” berita, tapi lupa “berbagi” rasa.
Terus muncul spesies baru: Zombie Teknologi.
Mereka masih hidup, tapi pikirannya dikendalikan oleh algoritma.
Mereka makan pakai tangan, tapi milih pasangan pakai swipe kanan.
Bangun tidur bukan doa yang pertama kali diucapkan, tapi buka HP sambil ngulet: “Hmm… siapa yang like story-ku semalam ya?”
Gareng geleng-geleng kepala,
> “Kalau zombie zaman dulu itu nyari otak, zombie zaman sekarang malah buang-buang otak buat ngejar konten.”
Petruk nyeletuk, “Saking cintanya sama layar, mereka nggak sadar hidupnya makin tipis kayak tempered glass.”
Pernah nggak sih kita berhenti sejenak, matikan notifikasi, dan bertanya dalam hati:
> “Aku ini siapa sih, sebenarnya? Aku mau jadi manusia macam apa?”
Karena tanpa akar, kita cuma daun yang gampang diterbangkan angin.
Tanpa rasa, kita cuma robot yang tahu cara bekerja tapi lupa cara berbelas kasih.
Tanpa budaya, kita cuma peniru yang kehilangan jati diri.
Jadi ayo, kawan.
Kita belajar untuk tidak melupakan.
Eling siapa dirimu.
Eling sama yang membesarkanmu.
Eling bahwa menjadi manusia bukan cuma soal seberapa cepat kamu membalas chat, tapi seberapa dalam kamu memahami sesama.
Petruk tutup tulisannya dengan satu kalimat pamungkas:
> “Jangan sampai nanti generasi cucumu lebih kenal nama artis TikTok daripada nama buyutnya sendiri.”
Sudah saatnya kita ingat lagi apa yang patut diingat.
Karena manusia yang lupa, cepat atau lambat akan kehilangan semuanya—kecuali utang, itu pasti diingat.
















