Situbondo, 16 Juni 2025 –
Warga Kapongan pagi ini kembali berjibaku…
Bukan melawan kemiskinan atau mahalnya sembako, tapi melawan lampu merah yang jadi hijau untuk semua arah secara bersamaan!
Hebat, toh? Setara utopis dengan semua caleg menang pemilu.
Di Perempatan Kapongan, empat arah menyala hijau serempak.
Mobil dari utara bilang: “Ini giliranku!”
Motor dari selatan jawab: “Eh, hijau juga nih, minggir!”
Pengendara dari timur ikut maju: “Aku juga! Gaspol!”
Dan dari barat? “Hidup demokrasi lampu! Semua boleh maju!”
Hasilnya?
Kluster kekacauan berulang kali, klakson bersahut seperti konser dangdut tanpa penyanyi.
—
Bapak Sunarwi: “Sudah Dua Kali Nyaris Jadi Sinetron Tabrakan”
Pak Sunarwi (57), warga asli situ, dengan wajah tenang tapi urat leher tegang berkata:
> “Sudah hampir tabrakan dua kali saya lihat. Ini bahaya, apalagi kalau malam. Harusnya diperbaiki, jangan nunggu ada korban dulu.”
Wong Situbondo ini bukan cuma takut diseruduk mobil, tapi juga takut absurdnya logika perempatan tanpa logika.
—
Ayik, Ojol Filosofis: “Kalau Semua Dapat Hijau, Siapa yang Salah?”
Ayik (23), ojek online yang biasa ngopi di pinggir jalan sambil nunggu order, ikut greget:
> “Kalau lampu hijau bersamaan, ya semua jalan dong! Siapa yang harus berhenti? Semua merasa benar, tapi semua hampir celaka.”
Ayik mungkin tak kuliah filsafat,
tapi kalimatnya layak dikutip di buku “Etika Lalu Lintas dan Keadaban Publik”.
—
APILL Bersuara: Demokrasi Lalu Lintas Tanpa Aturan
Cak Petruk membayangkan APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas) itu punya nyawa,
dan suatu malam dia berkata lirih:
> “Hijau untuk semua adalah bentuk kekuasaan yang ingin menyenangkan semua arah… tapi justru meniadakan arah itu sendiri.”
Ini bukan sekadar rusaknya alat, tapi rusaknya kesadaran kita akan giliran.
Dan apa yang lebih menyedihkan dari negeri yang lampu merahnya aja gak bisa adil?
—
Sindiran Lembut tapi Menohok: “Giliran Itu Adalah Peradaban”
Bayangkan kalau semua mau jalan duluan:
di jalan: tabrakan
di birokrasi: korupsi
di politik: rebutan kursi
di rumah tangga: rebutan remote TV
Kapongan bukan hanya butuh teknisi lampu…
Kapongan butuh logika baru: bahwa menunggu giliran bukan tanda lemah, tapi tanda dewasa.
Seperti sopan santun di jalan,
seperti suara yang mendahulukan yang lemah,
seperti negara yang tahu kapan harus gas, dan kapan harus rem.
—
Gareng Bilang:
Kalau APILL bisa rusak dan dibiarkan berbulan-bulan,
maka ada pertanyaan:
> “Berapa banyak sistem di negeri ini yang nyalanya juga hijau semua tanpa koordinasi?”
Semua ingin maju.
Semua ingin diprioritaskan.
Tapi semua lupa siapa yang mengatur giliran.
Begitu juga negara:
Kalau semua pejabat nyalanya hijau… rakyatnya kapan jalan?
















