Jember, garengpetruk.com – 26/6/2025
“Syuro… Syuro… Obor maju, hatimu nyala! Yang padam cuma utang di warung, itupun belum lunas!”
Begitulah kira-kira teriakan hati warga Dusun Krajan Kidul, Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, saat malam 1 Syuro datang dengan gegap gempita. Di Masjid At-Taqwa yang biasa sunyi suara sandal jepit waktu subuhan, malam itu berubah jadi panggung penuh cahaya. Tapi bukan cahaya duniawi seperti diskotik ilegal di pojokan kota, melainkan cahaya obor dan harapan—yang dibawa dengan berjalan kaki sejauh 200 meter. Start dan finish-nya: sama-sama di depan rumah Allah.

Pawai obor dimulai pukul 07.00 WIB. Bukan jam 7 pagi lho, tapi malam. Biar nggak dikira lomba lari subuh. Ada sekitar 150 pasukan obor yang ikut serta. Dari anak-anak SD Rambigundam 02, santri Pondok Subullussallam, sampai para guru dan warga yang sudah pensiun dari rebutan sinyal WiFi tetangga. Lengkap!
Wuni, salah satu warga yang menonton sambil menyusui, mengaku terharu.
“Awalnya males, Mas, keluar rumah. Tapi anakku yang agak gede nyeret-nyeret aku kayak narik kabel listrik. Ya sudah, akhirnya ikut juga. Anak senang, emak ikut lega. Meski harus gendong bayi sambil ngopi susu sachet, tetap syahdu.”
Kalau biasanya emak-emak rebutan minyak goreng saat Ramadan, malam itu rebutannya beda: rebutan posisi strategis buat nonton obor lewat. Muka sumringah, lampu jalan kalah terang.

Ibu Priti, guru dari SDN Rambigundam 02, bilang kalau pihak sekolah memang dapat undangan resmi dari panitia.
“Kami diminta kirim 50 siswa plus guru. Ya, itung-itung pelajaran sejarah lokal, Mas. Biar anak-anak ngerti, tahun baru Islam bukan sekadar nambah angka di kalender, tapi juga nambah makna di kepala.”
Acara pengajian dimulai pukul 08.00 WIB, setelah kaki-kaki mungil peserta kirab selesai menaklukkan aspal beraroma sate bakar dari warung sebelah masjid. Sekitar 200 orang hadir, dari anak-anak sampai bapak-bapak yang biasanya nongkrong di pos ronda. Malam itu mereka hijrah: dari rokok kretek ke tasbih dan air mineral.
Yang bikin merinding bukan cuma dinginnya angin malam, tapi juga suara ceramah dari Gus Firjaun, cucu ulama besar KH Ahmad Siddiq sekaligus mantan Wakil Bupati. Isinya? Campuran antara ilmu langit dan kritik bumi. Mulai dari pentingnya adat istiadat, sampai pentingnya tidak ngutang di warung pas malam Syuro.
Syamsul, sang panitia yang mukanya sudah kayak capek permanen, tapi hatinya tetap gembira, menyampaikan rasa syukur.
“Acara ini dua malam, Mas. Kemarin Imtihan santri, malam ini pengajian. Kami pengen anak-anak bisa ngerti adatnya sendiri. Biar nanti kalau sudah gede, gak cuma ngerti viralnya TikTok, tapi juga sejarahnya Dusun Krajan Kidul.”
Gareng Petruk bilang:
“Kadang kita lupa, cahaya obor lebih hangat dari sorot ring light. Karena obor membawa tradisi, sedangkan ring light cuma bawa filter. Malam Syuro itu bukan sekadar acara, tapi napas dari zaman yang masih menyimpan nilai.”
Jadi, biarlah obor tetap menyala—di tangan anak-anak dan di dada orang tua. Biar cahaya itu menuntun kita: dari zaman yang serba cepat, kembali ke akar yang sabar.
Dan untuk warga yang semalam ikut pawai sambil gendong anak dua, kami doakan semoga tulang punggungnya diberi kekuatan seperti tiang Masjid At-Taqwa. Aamiin.














