KLATEN – Kalau urusan damai, Kemenag Klaten tidak mau nunggu sampai “air sudah jadi es campur”—alias masalah sudah keburu pecah baru repot nyari solusi. Buktinya, Rabu (13/8/2025), di Aula Al-Ikhlas, mereka menggelar dialog bertema Cegah Dini Konflik Paham Keagamaan Islam.
Acara ini bukan hanya kumpul-kumpul formal yang penuh kata sambutan. Hadir lengkap pemain inti: Kakan Kemenag Klaten Dr. H. Anif Solikhin, perwakilan Polres, Kodim, Kejari, Kesbangpol, sampai tokoh-tokoh ormas Islam. Intinya, semua yang punya “kunci” perdamaian di Klaten duduk satu meja.
Dr. Anif Solikhin memberi contoh nyata: soal pembangunan rumah ibadah. “Banyak yang salah paham, mengira tidak ada konflik berarti kita tidak kerja. Padahal itu hasil kerja senyap tapi berdampak,” ujarnya. Bahasa halusnya: kalau adem, itu justru tanda mesinnya jalan.
Ketua FKUB Klaten, KH Syamsuddin Asyrofi, menambahkan resep damai versi teknologi: Early Warning System. Kalau di rumah ada alarm kebakaran, di masyarakat harus ada alarm konflik. “Penyuluh agama kita bukan sekadar juru dakwah, tapi agen perdamaian garda terdepan,” tegasnya.
Kepala Kesbangpol Klaten, Sugeng Haryanto, ikut nyumbang pandangan: koordinasi antar lembaga itu wajib. Kalau tidak, ibarat main gamelan, nanti tabuhannya nggak kompak—suara saron sama gong bisa saling sikut.
Di pojok ruangan, Gareng berbisik ke Petruk, “Truk, ini acara serius banget ya?”
Petruk nyengir, “Iya, tapi pesannya jelas: mencegah konflik itu kayak nyapu rumah—nggak kelihatan hasilnya tiap hari, tapi kalau nggak dilakukan, debunya numpuk dan bikin ribut.”
Dengan modal komitmen bersama, Klaten berharap bisa terus jaga harmoni. Karena kalau urusan damai sudah terjaga, warga bisa fokus ke urusan lain yang lebih menyenangkan—misalnya ngopi bareng sambil ngerumpi, bukan ribut.















